Kamis, 29 Desember 2016

Pemikiran Ibnu Sina dalam Filsafat



Ibnu Sina | Quran-Hadis.com
Banyak sekali tokoh filsafat yang sangat berpengaruh baik di timur maupun di barat. Salah satunya adalah Ibnu Sina,Ibnu Sina adalah seorang filosof yang di akui kehebatannya,tidak hanya filosof yang hidup sezaman dengannya tapi juga para filosof yang hidup setelahnya. Selain sebagai soerang filisof yang sangat cerdas,Ibnu Sina juga seorang dokter yang hebat. Satu buku karangannya di bidang kedokteran adalah Qanun fit thib,buku karangan Ibnu Sina ini dijadikan rujukan oleh ilmu kedokteran modern.
Dalam bidang filsafat,Ibnu Sina memiliki beberapa pemikiran,diantaranya tentang jiwa,emanasi,kenabian dan wujud. Dalam setiap pemikirannnya tidak terlepas dari pemikiran filosof sebelumnya,seperti Al-farabi dan Aristoteles. Ia banyak mengambil pembahasan dan sumber pemikiran dari kedua filosof tersebut. Dalam membahas tentang wujud,ia mencoba untuk memadukan antara pendapat Mutakallimin,Aristoteles dan Neo-platoisme,hal inilah yang menjadi pembahsan yang menarik,sehingga filsafat Ibnu Sina ini penting untuk dipelajari.
Biografi Ibnu Sina
Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husain ibnu Abdillah Ibnu Sina,ia lahir pada tahun 980 M di Ashfana,suatu tempat di dekat Bukhara.Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[1].Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu – ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya[2].Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry , Eucliddan Al-Magest- Ptolemus.Sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator – komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang -cabangnya,kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya Al-Farabi (870 – 950 M),semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi[3].
Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku – buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.
Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb- nya, di mana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran dari kitab ini,hal ini dikarenakan kitab ini lengkap dan disusun secara sistematis.
Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan yang memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam -nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan – peperangan yang meraja lela di sebelah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.
Pemikiran Ibnu Sina
  1. Wujud
Ibnu Sina dalam masalah wujud memadukan pandangan Mutakallimin, Aristoteles dan Neo-Platonisme, sehingga menjadi suatu metode tersendiri dalam menganalis wujud. Menurut Ibnu Sina sifat wujud-lah yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat yang lain termasuk esensi (mahiyyah). Esensi(hakikat) menurut Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujud-lah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud maka esensi tidak besar artinya, oleh karena itu wujud lebih penting dari esensi.Menurut Ibnu Sina kalau esensi dikombinasikan dengan wujud maka akan terjadi tiga kemungkinan yaitu:
  1. esensi yang tak dapat mempunyai wujud disebut “mumtana’ ”,yaitu sesuatu yang mustahil ber-wujud (mumtana’ al-wujud). Misalnya, adanya kosmos lain sekarang ini di samping kosmos(jagat raya)yang ada.
  2. esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh tidak, hal ini disebut mumkin, yaitu sesuatu yang mungkin berwujud dan mungkin juga tidak ber-wujud (mumkin al-wujud). Misalnya alam ini pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
  3. esensi yang tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Di sini, esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, esensi dan wujud sama dan satu. Di sini, esensi tidak dimulai oleh tidak ber-wujud dan kemudian berwujud, tetapi esensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama-lamanya ini disebut (wajib al-wujud) Necessary Being), wajib al-wujud inilah yang mewujudkan mumkin al-wujud dan itulah Tuhan.
Selanjutnya wajib al-wujud ini ada dua macam, yaitu:
  1. wajib bidhatihi sesuatu yang kepastian wujud-Nya disebabkan oleh zat-Nya sendiri. Artinya, adanya tidak bergantung pada adanya sebab lain selain diri-Nya. Dalam hal ini, esensi tidak bisa dipisahkan dengan wujud, keduanya adalah satu dan wujud-Nya tidak didahului oleh tiada (ma’dum). Ia akan tetap ada selama-lamanya. Itulah Allah swt. Yang Maha Esa, Yang Hak; Ia adalah al-‘Aql al-Muhaddah.
  2. wajib bigayrihi yaitu sesuatu yang kepastian wujudnya oleh zat yang lain, artinya sesuatu yang berwujud karena benda lain yang mewujudkannya. Misalnya, adanya empat karena 2 + 2 atau 3 + 1, adanya basah karena ada air, kebakaran disebabkan oleh api.
Doktrin Ibnu Sina tentang Wujud, sebagaimana para filosof muslim lainnya, misalnya al-Farabi, bersifat emanasionistis. Dari Tuhanlah, Kemaujudan Yang Mesti, mengalir intelegensi pertama, sendirian karena hanya dari yang tunggal, yang mutlak, sesuatu dapat mewujud. Tetapi sifat intelegensi yang pertama itu tidak selamanya mutlak satu, karena bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin, dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan.[4]
Menurut Ibnu Sina Tuhan menciptakan sesuatu karena adanya keperluan yang rasional, Ibnu Sina menjelaskan pra-pengetahuan Tuhan tentang semua kejadian. Dunia secara keseluruhan, ada bukan karena kebetulan, tetapi diberikan oleh Tuhan, ia diperlukan, dan keperluan ini diturunkan dari Tuhan, ini merupakan prinsip Ibnu Sina tentang eksistensi secara singkat.
Selanjutnya Ibnu Sina berkeyakinan bahwa hanya dari bentuk dan materi saja tidak akan pernah mendapatkan eksistensi(keberadaan) yang nyata, tetapi hanya kualitas-kualitas esensial(keperluan hakiki,dasar))kebetulan. Ia menganalisis hubungan antara bentuk dan materi, di mana ia menyimpulkan bahwa bentuk dan materi itu bergantung pada Tuhan (atau akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa eksistensi yang tersusun juga tidak hanya bisa disebabkan oleh bentuk dan materi saja, tetapi harus terdapat sesuatu yang lain.“segala sesuatu kecuali yang Esa, yang esensi-Nya adalah Tunggal dan Maujud, memperoleh eksistensinya dari sesuatu yang lain. Di dalam dirinya sendiri ia layak untuk mendapatkan ketidakadaan yang mutlak. Sekarang ia bukan materi sendiri tanpa bentuknya, atau bentuk sendiri tanpa materinya yang layak mendapatkan ketidakadaan itu, tetapi adalah semuanya (bentuk dan materi).
Banyak sarjana yang berkeyakinan bahwa Ibnu Sina mengikuti pendapat Aristoteles dan Plato, bentuk-bentuk itu mempunyai status ontologism yang lebih tinggi dan ada dalam kesadaran Tuhan, dan kemudian Ia-lah yang melanjutkan sehingga bentuk ada sebagai materi. Oleh karena itu, dapatlah dibayangkan bahwa eksistensi sesungguhnya bukanlah bentukan benda, tetapi ia lebih merupakan hubungan dengan Tuhan: bila anda memandang benda dalam kaitannya dengan adanya perantara Tuhan yang mengadakan, maka benda itu ada, dan benda itu ada karena keniscayaan, kemudian eksistensinya itu dapat dipahami, tetapi bila keluar dari hubungannya dengan Tuhan, maka adanya sesutau itu hilanglah pengertian dan maknanya. Inilah aspek hubungan yang ditunjukkan oleh Ibnu Sina dengan istilah “kejadian” dan mengatakan bahwa eksistensi itu adalah suatu kejadian.[5]
  1. Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi,ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancarkan akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.
Teori emanasi ini telah diperkenalkan oleh Al-Kindi yang membuka jalan bagi Al-Farabi untuk membahasnya secara terperinci, yaitu dimulai dari Tuhan sebagai “Wujud Pertama” dan “Akal Murni” (al-‘aql al-muhaddah) di mana ia sebagai subjek pikir sekaligus menjadi objeknya. Dengan ta’aqqul (berpikir) mulai ciptaan Tuhan dengan pelimpahan, wujud kedua dalam urutan emanasi yang disebut al-‘aql al-wwal) dari “akal pertama” ini ber-ta’qqul, maka terwujudlah al-‘aql al-thani (demikian seterusnya sampai kepada “akal kesepuluh” (al-‘aql al-‘ashir) disebut juga dengan (al-‘aql al-fa’al)[6].
Pada dasarnya teori emanasi Ibnu Sina adalah pengeluaran akal-akal sebagaimana yang dikemukakan oleh gurunya, Al-Farabi . Namun ada bedanya, yaitu tatkala “Akal Pertama” ber-ta’aqqul mengeluarkan “akal kedua” di sampingnya juga mengeluarkan dua wujud yang lain, jadi bukan satu wujud saja seperti yang dikemukakan Al-Farabi, yaitu apa yang disebutnya jarama al-fulk al-‘aqsha (langit dengan semua planetnya) dan nafs al-fulk al-‘aqsha (jiwa dari langit dengan semua planetnya).
Jadi letak perbedaan antara keduanya adalah teori emanasi Al-Farabi mengalirkan bentuk ganda, (thanawiyyah), yaitu “Akal Pertama” berpikir tentang asalnya yang wajib al-wujud dan berpikir tentang dirinya sendiri yang mumkin al-wujud , sedangkan emanasi Ibnu Sina mengalirkan bentuk tiga-tiga (thalathiyyah), yaitu “Akal Pertama” berpikir terhadap Allah sebagai asal kejadiannya, berpikir terhadap dirinya yang wajib al-wujud dan berpikir pada dirinya yang mumkin al-wujud. Perbedaan pandangan ini merupakan jalan keluar terhadap kesulitan yang dialami oleh para filosof Yunani dahulu kala[7].
Menurut Ibnu Sina, falak itu mempunyai jiwa (nafs) dan jiwa itulah yang menggerakkan falak secara langsung, sementara al-‘aql hanya menggerakkan falak dari jauh. Al-‘aql itu sendiri tetap (permanen) sebab ia terasing (mufaraq) dari benda falak, sedangkan jiwa berhubungan langsung dengan benda falak, dan pada al-‘aql itu ada sesuatu hal yang disebut al-khayr (kebaikan), kebaikan inilah yang menjadi tujuan falak untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Untuk mencapai kesempurnaan itu falak lalu berputar mengelilingi al-‘aql almufariq-nya. Namun demikian, maksud tersebut tidak akan dicapai sebab tiap-tiap falak hanya mampu mencapai suatu tingkatan kesempurnaan dalam lingkungan akalnya., Oleh karena itu, hanya “akal pertama” yang paling sempurna dibandingkan akal-akal yag lain karena ia merupakan limpahan langsung dari Tuhan, sedangkan “akal kedua” lebih rendah dari “akal pertama”, dan “akal ketiga” lebih rendah dari “akal kedua” dan seterusnya . Dengan demikian menurut Ibnu Sina dengan terlimpahnya “akal pertama” dari Tuhan, dan seterusnya hingga kepada “akal kesepuluh” .tidak dimaksudkan oleh Tuhan dan tidak pula di atas tabiatnya dengan alasan bahwa kalau Tuhan menginginkan sesuatu untuk diri-Nya atas pelimpahan-Nya kepada “akal pertama”, maka itu berarti barang yang diingini itu lebih tinggi tingkatannya dari pada yang mengingini, yaitu Tuhan sendiri, sehingga pelimpahan berjalan di atas kerelaan yang dipikirkan (al-fayd rida’ ma’qul) oleh Tuhan.
Ibnu Sina mencanangkan sebuah argumentasi untuk membuktikan bahwa kendati Tuhan tak dapat memiliki pengetahuan perceptual(penglihatan, daya tangkap), Dia mengetahui segala sesuatu yang khusus secara universal, sehingga pengetahuan perceptual itu merupakan kelebihan dari diri-Nya. Karena Tuhan adalah sebab asal kejadian segala maujud, maka Dia mengetahui baik maujud-maujud tersebut maupun hubungan yang terdapat di antara mereka. Missal, Tuhan mengetahui bahwa setelah sekian rangkaian peristiwa tertentu akan terjadi gerhana matahari, dan mengetahui semua antesenden maupun konsekuensi gerhana ini. Dia mengetahui secara pasti kualitas-kualitas serta sifat-sifatnya, dengan demikian Dia mengetahui gerhana tertentu,apa yang akan terjadi, dan dapat membedakannya secara lengkap dari semuat peristiwa lain bahkan dari peristiwa-peristiwa sejenis, yaitu gerhana pada umumnya.
Demikian pula aktifitas kreatif Tuhan, menurut Ibnu Sina berarti pemancaran atau prosesi-prosesi dunia, dan arena pemancaran ini pada akhirnya berlandaskan sifat intelektual Tuhan, maka pemancaran bersifat pasti dan rasional.
Dunia ini ada secara abadi bersama Tuhan, karena baik materi maupun bentuk mengalir abadi dari Dia. Tetapi walaupun konsep ini menjijikkan bagi Islam ortodoks, tujuan Ibnu Sina memperkenalkannya adalah dalam rangka berupaya untuk berlaku adil baik terhadap tuntutan-tuntutan agama maupun terhadap penalaran dan untuk menghindari matetrialisme ateistis. Menurut kaum materialis, dunia ini telah ada dan abadi tanpa Tuhan. Menurut Ibnu Sina pun abadi adanya, tetapi karena dunia ini tidak berdiri sendiri maka secara keseluruhan membutuhkan Tuhan dan bergantung kepada-Nya secara abadi.[8]
  1. Filsafat Jiwa
Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian :
Jiwa tumbuh – tumbuhan
Jiwa tumbuh-tumbuhan memilki banyak daya diantaranya daya makan,tumbuh,berkembang biak
Jiwa binatang
Dengan daya Gerak,Menangkap dengan dua bagian yaitu menangkap dari luar dengan panca indera dan menangkap dari dalam dengan indera – indera dalam.
Jiwa manusia
Dengan daya praktis dengan badan teoritis yang hubungannya adalah dengan hal – hal abstrak.Daya ini mempunyai tingkatan :
  • Akal materiil yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
  • Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak.
  • Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.
  • Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
Jiwa dalam keberadaan hakikinya dengan demikian merupakan suatu substansi yang independen dan adalah diri kita yang transendental. Argumentasi Ibnu Sina tentang keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu substansi dan bukan suatu bentuk tubuh, yang kepada bentuk itu jiwa dikaitkan erat-erat oleh suatu hubungan mistik tertentu keduanya. Di dalam jiwa yang muncul dari substansi yang terpisah intelegasi aktif bersama dengan muncilnya suatu tubuh dengan temperamen tertentu terdapat suatu kecenderungan tertentu untuk mengaitkan dirinya dengan tubuh ini, merawatnya, dan mengarahkannya sedemikian rupa sehingga saling menguntungkan. Selanjutnya, jiwa sebagai non-badani, merupakan suatu substansi yang sederhana dan substansi ini menjamin kesinambungan hidupnya bahkan bila tubuh itu sendiri telah rusak. Hubungan antara jiwa dan tubuh demikian erat sehingga hal ini bisa pula mempengaruhi akal.[9]
  1. Filsafat Kenabian
Pentingnya gejala kenabian dan wahyu Illahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif, keajaiban, dan sosiopolitis. Totalitas keempat tingkatan ini member kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak, dan arah pemikiran keagamaan.
Ibnu Sina secara drastis memodifikasi teologi dogmatis muslim dengan menyatakan bahwa wahyu di dalam al-Qur’an pada umumnya, jika tidak seluruhnya, merupakan kebenaran simbolis, bukan kebenaran harfiah, tetapi wahyu itu tetap harus sebagai kebenaran harfiah bagi orang awam (ini tidak berarti bahwa al-Qur’an itu bukan firman Tuhan).
Wawasan kreatif tentang pengetahuan dan nilai-nilai diistilahkan oleh Ibnu Sina dengan akal aktif dan diidentikkan dengan malaikat pembawa wahyu dan sepanjang identitas ini masih berlaku, akal aktif itu disebut dengan ’aql mustafad (akal yang telah dicapai). Namun nabi juga manusia yang tidak identik dengan akal aktif. Dengan demikian, pemberi wahyu dalam satu hal internal dengan nabi, dalam hal lain, yaitu sepanjang pengertian pemberi wahyu itu adalah manusia, eksternal dengannya. Oleh karena itu, Ibnu Sina mengatakan bahwa nabi, dalam hal sebagi manusia, secara “aksidental” bukan secara esensial, adalah akal aktif[10]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar