Ibnu Sina |
Quran-Hadis.com
Banyak sekali
tokoh filsafat yang sangat berpengaruh baik di timur maupun di barat. Salah
satunya adalah Ibnu Sina,Ibnu Sina adalah seorang filosof yang di akui
kehebatannya,tidak hanya filosof yang hidup sezaman dengannya tapi juga para
filosof yang hidup setelahnya. Selain sebagai soerang filisof yang sangat
cerdas,Ibnu Sina juga seorang dokter yang hebat. Satu buku karangannya di
bidang kedokteran adalah Qanun fit thib,buku karangan Ibnu Sina ini
dijadikan rujukan oleh ilmu kedokteran modern.
Dalam bidang
filsafat,Ibnu Sina memiliki beberapa pemikiran,diantaranya tentang
jiwa,emanasi,kenabian dan wujud. Dalam setiap pemikirannnya tidak terlepas dari
pemikiran filosof sebelumnya,seperti Al-farabi dan Aristoteles. Ia banyak
mengambil pembahasan dan sumber pemikiran dari kedua filosof tersebut. Dalam
membahas tentang wujud,ia mencoba untuk memadukan antara pendapat
Mutakallimin,Aristoteles dan Neo-platoisme,hal inilah yang menjadi pembahsan
yang menarik,sehingga filsafat Ibnu Sina ini penting untuk dipelajari.
Biografi
Ibnu Sina
Nama
lengkapnya adalah Abu Ali Husain ibnu Abdillah Ibnu Sina,ia lahir pada tahun
980 M di Ashfana,suatu tempat di dekat Bukhara.Orang tuanya adalah pegawai
tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[1].Di
Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu – ilmu agama
Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam
dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya[2].Dari
mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu
logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry ,
Eucliddan Al-Magest- Ptolemus.Sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu
agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni
dengan bantuan komentator – komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani
yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan
ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang
-cabangnya,kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian
otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami
ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru
setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya
Al-Farabi (870 – 950 M),semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang
terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu
metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang
setia dari Al-Farabi[3].
Sewaktu
berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana
pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya.
Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi
perpustakaan yang penuh dengan buku – buku yang sukar didapat, kemudian
dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut
terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja
membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari
perpustakaan itu.
Kemampuan
Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya.
Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb- nya, di
mana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran dari kitab ini,hal ini
dikarenakan kitab ini lengkap dan disusun secara sistematis.
Dibidang
filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan
sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya
dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan yang
memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof
kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of
Islam -nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles
sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi
entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat
susah dipahami dan digemari orang karena peperangan – peperangan yang meraja
lela di sebelah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga
pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan
penerangan dan keterangan yang luas.
Pemikiran
Ibnu Sina
- Wujud
Ibnu Sina
dalam masalah wujud memadukan pandangan Mutakallimin, Aristoteles dan
Neo-Platonisme, sehingga menjadi suatu metode tersendiri dalam menganalis wujud.
Menurut Ibnu Sina sifat wujud-lah yang terpenting dan mempunyai
kedudukan di atas segala sifat yang lain termasuk esensi (mahiyyah).
Esensi(hakikat) menurut Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat
di luar akal. Wujud-lah yang membuat tiap esensi yang dalam akal
mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud maka esensi tidak besar
artinya, oleh karena itu wujud lebih penting dari esensi.Menurut Ibnu
Sina kalau esensi dikombinasikan dengan wujud maka akan
terjadi tiga kemungkinan yaitu:
- esensi yang tak dapat mempunyai wujud disebut “mumtana’ ”,yaitu sesuatu yang mustahil ber-wujud (mumtana’ al-wujud). Misalnya, adanya kosmos lain sekarang ini di samping kosmos(jagat raya)yang ada.
- esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh tidak, hal ini disebut mumkin, yaitu sesuatu yang mungkin berwujud dan mungkin juga tidak ber-wujud (mumkin al-wujud). Misalnya alam ini pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
- esensi yang tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Di sini, esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, esensi dan wujud sama dan satu. Di sini, esensi tidak dimulai oleh tidak ber-wujud dan kemudian berwujud, tetapi esensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama-lamanya ini disebut (wajib al-wujud) Necessary Being), wajib al-wujud inilah yang mewujudkan mumkin al-wujud dan itulah Tuhan.
Selanjutnya wajib al-wujud ini
ada dua macam, yaitu:
- wajib bidhatihi sesuatu yang kepastian wujud-Nya disebabkan oleh zat-Nya sendiri. Artinya, adanya tidak bergantung pada adanya sebab lain selain diri-Nya. Dalam hal ini, esensi tidak bisa dipisahkan dengan wujud, keduanya adalah satu dan wujud-Nya tidak didahului oleh tiada (ma’dum). Ia akan tetap ada selama-lamanya. Itulah Allah swt. Yang Maha Esa, Yang Hak; Ia adalah al-‘Aql al-Muhaddah.
- wajib bigayrihi yaitu sesuatu yang kepastian wujudnya oleh zat yang lain, artinya sesuatu yang berwujud karena benda lain yang mewujudkannya. Misalnya, adanya empat karena 2 + 2 atau 3 + 1, adanya basah karena ada air, kebakaran disebabkan oleh api.
Doktrin Ibnu
Sina tentang Wujud, sebagaimana para filosof muslim lainnya, misalnya al-Farabi,
bersifat emanasionistis. Dari Tuhanlah, Kemaujudan Yang Mesti, mengalir
intelegensi pertama, sendirian karena hanya dari yang tunggal, yang mutlak,
sesuatu dapat mewujud. Tetapi sifat intelegensi yang pertama itu tidak
selamanya mutlak satu, karena bukan ada dengan sendirinya, ia hanya mungkin,
dan kemungkinannya itu diwujudkan oleh Tuhan.[4]
Menurut Ibnu
Sina Tuhan menciptakan sesuatu karena adanya keperluan yang rasional, Ibnu Sina
menjelaskan pra-pengetahuan Tuhan tentang semua kejadian. Dunia secara
keseluruhan, ada bukan karena kebetulan, tetapi diberikan oleh Tuhan, ia
diperlukan, dan keperluan ini diturunkan dari Tuhan, ini merupakan prinsip Ibnu
Sina tentang eksistensi secara singkat.
Selanjutnya
Ibnu Sina berkeyakinan bahwa hanya dari bentuk dan materi saja tidak akan
pernah mendapatkan eksistensi(keberadaan) yang nyata, tetapi hanya
kualitas-kualitas esensial(keperluan hakiki,dasar))kebetulan. Ia menganalisis
hubungan antara bentuk dan materi, di mana ia menyimpulkan bahwa bentuk dan
materi itu bergantung pada Tuhan (atau akal aktif) dan lebih jauh lagi bahwa
eksistensi yang tersusun juga tidak hanya bisa disebabkan oleh bentuk dan
materi saja, tetapi harus terdapat sesuatu yang lain.“segala sesuatu kecuali
yang Esa, yang esensi-Nya adalah Tunggal dan Maujud, memperoleh eksistensinya
dari sesuatu yang lain. Di dalam dirinya sendiri ia layak untuk mendapatkan
ketidakadaan yang mutlak. Sekarang ia bukan materi sendiri tanpa bentuknya,
atau bentuk sendiri tanpa materinya yang layak mendapatkan ketidakadaan itu,
tetapi adalah semuanya (bentuk dan materi).
Banyak
sarjana yang berkeyakinan bahwa Ibnu Sina mengikuti pendapat Aristoteles dan
Plato, bentuk-bentuk itu mempunyai status ontologism yang lebih tinggi dan ada
dalam kesadaran Tuhan, dan kemudian Ia-lah yang melanjutkan sehingga bentuk ada
sebagai materi. Oleh karena itu, dapatlah dibayangkan bahwa eksistensi
sesungguhnya bukanlah bentukan benda, tetapi ia lebih merupakan hubungan dengan
Tuhan: bila anda memandang benda dalam kaitannya dengan adanya perantara Tuhan
yang mengadakan, maka benda itu ada, dan benda itu ada karena keniscayaan,
kemudian eksistensinya itu dapat dipahami, tetapi bila keluar dari hubungannya
dengan Tuhan, maka adanya sesutau itu hilanglah pengertian dan maknanya. Inilah
aspek hubungan yang ditunjukkan oleh Ibnu Sina dengan istilah “kejadian” dan
mengatakan bahwa eksistensi itu adalah suatu kejadian.[5]
- Emanasi
Sebagaimana
Al-Farabi,ia juga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancarkan akal pertama,
dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian
seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh
memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal
pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.
Teori emanasi
ini telah diperkenalkan oleh Al-Kindi yang membuka jalan bagi Al-Farabi untuk
membahasnya secara terperinci, yaitu dimulai dari Tuhan sebagai “Wujud Pertama”
dan “Akal Murni” (al-‘aql al-muhaddah) di mana ia sebagai subjek pikir
sekaligus menjadi objeknya. Dengan ta’aqqul (berpikir) mulai ciptaan
Tuhan dengan pelimpahan, wujud kedua dalam urutan emanasi yang disebut
al-‘aql al-wwal) dari “akal pertama” ini ber-ta’qqul, maka
terwujudlah al-‘aql al-thani (demikian seterusnya sampai kepada “akal
kesepuluh” (al-‘aql al-‘ashir) disebut juga dengan (al-‘aql
al-fa’al)[6].
Pada dasarnya
teori emanasi Ibnu Sina adalah pengeluaran akal-akal sebagaimana yang
dikemukakan oleh gurunya, Al-Farabi . Namun ada bedanya, yaitu tatkala “Akal
Pertama” ber-ta’aqqul mengeluarkan “akal kedua” di sampingnya juga
mengeluarkan dua wujud yang lain, jadi bukan satu wujud saja
seperti yang dikemukakan Al-Farabi, yaitu apa yang disebutnya jarama
al-fulk al-‘aqsha (langit dengan semua planetnya) dan nafs
al-fulk al-‘aqsha (jiwa dari langit dengan semua planetnya).
Jadi letak
perbedaan antara keduanya adalah teori emanasi Al-Farabi mengalirkan bentuk
ganda, (thanawiyyah), yaitu “Akal Pertama” berpikir tentang asalnya
yang wajib al-wujud dan berpikir tentang dirinya sendiri yang mumkin
al-wujud , sedangkan emanasi Ibnu Sina mengalirkan bentuk tiga-tiga (thalathiyyah),
yaitu “Akal Pertama” berpikir terhadap Allah sebagai asal kejadiannya, berpikir
terhadap dirinya yang wajib al-wujud dan berpikir pada dirinya yang mumkin
al-wujud. Perbedaan pandangan ini merupakan jalan keluar terhadap
kesulitan yang dialami oleh para filosof Yunani dahulu kala[7].
Menurut Ibnu
Sina, falak itu mempunyai jiwa (nafs) dan jiwa itulah yang
menggerakkan falak secara langsung, sementara al-‘aql hanya
menggerakkan falak dari jauh. Al-‘aql itu sendiri tetap (permanen)
sebab ia terasing (mufaraq) dari benda falak, sedangkan jiwa
berhubungan langsung dengan benda falak, dan pada al-‘aql itu ada
sesuatu hal yang disebut al-khayr (kebaikan), kebaikan inilah yang
menjadi tujuan falak untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Untuk mencapai
kesempurnaan itu falak lalu berputar mengelilingi al-‘aql al–mufariq-nya.
Namun demikian, maksud tersebut tidak akan dicapai sebab tiap-tiap falak
hanya mampu mencapai suatu tingkatan kesempurnaan dalam lingkungan akalnya.,
Oleh karena itu, hanya “akal pertama” yang paling sempurna dibandingkan
akal-akal yag lain karena ia merupakan limpahan langsung dari Tuhan, sedangkan
“akal kedua” lebih rendah dari “akal pertama”, dan “akal ketiga” lebih rendah
dari “akal kedua” dan seterusnya . Dengan demikian menurut Ibnu Sina
dengan terlimpahnya “akal pertama” dari Tuhan, dan seterusnya hingga kepada
“akal kesepuluh” .tidak dimaksudkan oleh Tuhan dan tidak pula di atas tabiatnya
dengan alasan bahwa kalau Tuhan menginginkan sesuatu untuk diri-Nya atas
pelimpahan-Nya kepada “akal pertama”, maka itu berarti barang yang diingini
itu lebih tinggi tingkatannya dari pada yang mengingini, yaitu
Tuhan sendiri, sehingga pelimpahan berjalan di atas kerelaan yang dipikirkan (al-fayd
rida’ ma’qul) oleh Tuhan.
Ibnu Sina
mencanangkan sebuah argumentasi untuk membuktikan bahwa kendati Tuhan tak dapat
memiliki pengetahuan perceptual(penglihatan, daya tangkap), Dia mengetahui
segala sesuatu yang khusus secara universal, sehingga pengetahuan perceptual
itu merupakan kelebihan dari diri-Nya. Karena Tuhan adalah sebab asal kejadian
segala maujud, maka Dia mengetahui baik maujud-maujud tersebut maupun hubungan
yang terdapat di antara mereka. Missal, Tuhan mengetahui bahwa setelah sekian
rangkaian peristiwa tertentu akan terjadi gerhana matahari, dan mengetahui
semua antesenden maupun konsekuensi gerhana ini. Dia mengetahui secara pasti
kualitas-kualitas serta sifat-sifatnya, dengan demikian Dia mengetahui gerhana
tertentu,apa yang akan terjadi, dan dapat membedakannya secara lengkap dari
semuat peristiwa lain bahkan dari peristiwa-peristiwa sejenis, yaitu gerhana
pada umumnya.
Demikian pula
aktifitas kreatif Tuhan, menurut Ibnu Sina berarti pemancaran atau
prosesi-prosesi dunia, dan arena pemancaran ini pada akhirnya berlandaskan
sifat intelektual Tuhan, maka pemancaran bersifat pasti dan rasional.
Dunia ini ada secara abadi
bersama Tuhan, karena baik materi maupun bentuk mengalir abadi dari Dia. Tetapi
walaupun konsep ini menjijikkan bagi Islam ortodoks, tujuan Ibnu Sina
memperkenalkannya adalah dalam rangka berupaya untuk berlaku adil baik terhadap
tuntutan-tuntutan agama maupun terhadap penalaran dan untuk menghindari
matetrialisme ateistis. Menurut kaum materialis, dunia ini telah ada dan abadi
tanpa Tuhan. Menurut Ibnu Sina pun abadi adanya, tetapi karena dunia ini tidak
berdiri sendiri maka secara keseluruhan membutuhkan Tuhan dan bergantung kepada-Nya
secara abadi.[8]
- Filsafat Jiwa
Ibnu Sina membagi jiwa dalam
tiga bagian :
Jiwa tumbuh – tumbuhan
Jiwa tumbuh-tumbuhan memilki
banyak daya diantaranya daya makan,tumbuh,berkembang biak
Jiwa binatang
Dengan daya Gerak,Menangkap
dengan dua bagian yaitu menangkap dari luar dengan panca indera dan menangkap
dari dalam dengan indera – indera dalam.
Jiwa manusia
Dengan daya praktis dengan badan
teoritis yang hubungannya adalah dengan hal – hal abstrak.Daya ini mempunyai
tingkatan :
- Akal materiil yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
- Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak.
- Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.
- Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.
Jiwa dalam
keberadaan hakikinya dengan demikian merupakan suatu substansi yang independen
dan adalah diri kita yang transendental. Argumentasi Ibnu Sina tentang
keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu
substansi dan bukan suatu bentuk tubuh, yang kepada bentuk itu jiwa dikaitkan
erat-erat oleh suatu hubungan mistik tertentu keduanya. Di dalam jiwa yang
muncul dari substansi yang terpisah intelegasi aktif bersama dengan muncilnya
suatu tubuh dengan temperamen tertentu terdapat suatu kecenderungan tertentu
untuk mengaitkan dirinya dengan tubuh ini, merawatnya, dan mengarahkannya
sedemikian rupa sehingga saling menguntungkan. Selanjutnya, jiwa sebagai
non-badani, merupakan suatu substansi yang sederhana dan substansi ini menjamin
kesinambungan hidupnya bahkan bila tubuh itu sendiri telah rusak. Hubungan
antara jiwa dan tubuh demikian erat sehingga hal ini bisa pula mempengaruhi
akal.[9]
- Filsafat Kenabian
Pentingnya
gejala kenabian dan wahyu Illahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah
diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif,
keajaiban, dan sosiopolitis. Totalitas keempat tingkatan ini member kita
petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak, dan arah pemikiran keagamaan.
Ibnu Sina
secara drastis memodifikasi teologi dogmatis muslim dengan menyatakan bahwa
wahyu di dalam al-Qur’an pada umumnya, jika tidak seluruhnya, merupakan
kebenaran simbolis, bukan kebenaran harfiah, tetapi wahyu itu tetap harus
sebagai kebenaran harfiah bagi orang awam (ini tidak berarti bahwa al-Qur’an
itu bukan firman Tuhan).
Wawasan kreatif tentang
pengetahuan dan nilai-nilai diistilahkan oleh Ibnu Sina dengan akal aktif dan
diidentikkan dengan malaikat pembawa wahyu dan sepanjang identitas ini masih
berlaku, akal aktif itu disebut dengan ’aql mustafad (akal yang telah dicapai).
Namun nabi juga manusia yang tidak identik dengan akal aktif. Dengan demikian,
pemberi wahyu dalam satu hal internal dengan nabi, dalam hal lain, yaitu
sepanjang pengertian pemberi wahyu itu adalah manusia, eksternal dengannya.
Oleh karena itu, Ibnu Sina mengatakan bahwa nabi, dalam hal sebagi manusia,
secara “aksidental” bukan secara esensial, adalah akal aktif[10]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar