Prime Time Merubah Kebiasaan
“Spongebob Square Pants.. Spongebob Square Pants.. Sponebobs Square Pants..” Suara lantang anak-anak menirukan soundtrack film Spongebob di ruang keluarga. Acara kartun favorit anak tersebut diputar tepat ketika adzan maghrib berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumah. Saat itu Ayah baru saja pulang dari kantor, sedangkan Ibu sedang menyiapkan hidangan makan malam di dapur.
Pukul 18.00 sampai pukul 21.00 adalah momentum
bagi sebuah keluarga untuk berbaur kembali setelah aktivitas dari masing-masing
anggota keluarga terselesaikan. Umumnya, bagi mereka pemeluk Islam akan
melakukan sholat Maghrib secara berjamaah dan dilanjutkan mengaji bersama. Pun
demikian dengan keluarga non muslim, mereka akan berkumpul untuk makan malam
kemudian Ayah dan Ibu menemani anak-anak untuk belajar.
Setidaknya beberapa tahun yang lalu, pukul 18.00
sampai 21.00 dinamakan “waktu belajar”. Sering kita jumpai papan pengumuman
yang menjelaskan tentang hal demikian. Namun, saat ini nama tersebut sudah
tidak dipakai lagi. Orang-orang sekarang lebih mengenal atau familiar dengan
nama “prime time” untuk menyebut waktu tersebut.
Prime time merupakan jam
tayang utama untuk televisi yakni antara pukul 18.00 sampai 21.00. Momentum
tersebut dianggap sangat potensial untuk menyedot perhatian pemirsa yang diasumsikan
sedang berkumpul di depan layar kaca. Sehingga kemungkinan untuk mejual potensi
tersebut kepada pengiklan sangatlah besar. Orang- orang TV mengasumsikan
pemirsa televisi pada jam tersebut lebih banyak ketimbang jam-jam lain.
Pada dasarnya hal tersebut tidak berlaku
sepenuhnya. Ketika acara televisi tidak menarik, senyaman apapun suasana pasti
orang akan lebih memilih untuk mematikan televisi. Untuk itu televisi pada
umumnya menayangkan program-program acara unggulan pada jam tersebut. Mereka berlomba-lomba
untuk mengisi slot tersebut dengan acara yang semenarik mungkin. Sinetron,
kartun, kuis, acara komedi hampir pasti kita temukan ketika memindah saluran
televisi dari saluran sebelumnya. Keseragaman tampak jelas di hampir semua
stasiun televisi dengan satu tujuan, yakni membuat keluarga atau orang-orang
berlama-lama di depan televisi pada saat prime time.
Hasilnya cukup signifikan, sekarang hampir jarang
ditemukan suara tadarus Al-Qur’an atau suara celoteh anak-anak yang sedang
belajar mengeja kalimat di rumah-rumah. Adik-adik kita di rumah lebih memilih
tertawa oleh lawakan-lawakan konyol Spons Bob dari pada meminta pejelasan
kepada kita tentang PR PPKN atau Matematika yang harus dikumpul besok.
Sementara Ayah belum pulang dari kantor, Ibu sedang asyik mengikuti alur cerita
sinetron yang mbulet dan monotone.
Ironisnya, program acara yang
ditayangkan pada saat jam prime time kebanyakan adalah program acara
sampah. Mengapa sampah? Karena minimnya nilai positif yang terkandung dalam
tayangan-tayangan tersebut. Sinetron-sinetron yang kebanyakan menampilkan
adegan kekerasan rumah tangga, rencana-rencana jahat, dan aktor antagonis sudah
cukup menjadi contohnya. Dikhawatirkan adegan-adegan sampah tersebut menjadi
referensi bagi pemirsa yang intesitas menontonnya sangat tiggi, sehingga mereka
akan melakukan hal yang sama di sinetron ketika dalam kehidupan nyata.
Inilah bukti bahwa bukan hanya program acara yang
dijual, akan tetapi pemirsa pun menjadi komoditas yang sangat menjanjikan untuk
dijual oleh para pemilik televisi swasta kepada pengiklan. Pemirsa pada jam prime
time dikonversikan dalam rating yang akan mempengaruhi banyak
atau sedikitnya iklan masuk. Secara tidak langsung kita sebagai pemirsa
dijadikan komoditas yang menjanjikan untuk mencari pendapatan demi kelangsungan
atau eksistensi televisi swasta tersebut.
Ketika demikian, seharusnya kita disuguhi
acara-acara yang berkualitas pada jam prime time. Karena kita lah yang
menjadi penentu bangkrut tidaknya sebuah stasiun televisi. Mereka sangat mungkin
kehilangan pengiklan karena rating mereka rendah. Namun yang terjadi
justru sebaliknya, kita disuguhi acara yang tidak lebih dari sekadar acara
menghibur dan tidak bisa dikatakan acara yang mendidik.
Persaingan antara stasiun televisi swasta tak
terelakkan dalam merebut perhatian pemirsa. Mereka berlomba-lomba menyajikan
acara yang berpotensi menyedot perhatian banyak orang. Sayangnya mereka
mengesampingkan kualitas dan nilai-nilai positif yang seharusnya terkandung
dalam sebuah acara.
Alhasil, banyak keseragaman tema acara yang
tayang pada saat prime time. Sinetron dan komedi seakan menjadi
menu yang wajib dimiliki oleh televisi swasta agar mereka tidak ditinggal
pemirsanya. Ketika stasiun televisi A misalnya menayangkan sinetron, hampir
bisa dipastikan ada televisi lain yang juga menayangkan sinetron, begitu juga
untuk program-program lainnya.
Seakan tidak ada yang berani keluar dari jalur mainstream.
Televisi A selalu membuat acara yang sekiranya sedang menjadi perhatian pemirsa
di televisi B, kemudian televisi C akan membuat acara yang sama, dan begitu
seterusnya.
Selera pemirsa yang mainstream
Tidak dipungkiri, menjamurnya acara sampah tidak
lepas dari tingginya rating dari acara tersebut. Pemirsa seakan
menikmatinya, terbukti masih eksisnya acar-acara tersebut. Selera pemirsa saat
ini bisa dikatakan rendah. Kita sekarang merasa terhibur dengan acara ecek-ecek
yang menjamur. Kita bisa tertawa terbahak-bahak karena banyolan atau
lelucon remeh dari pelawak di televisi. Kita tidak kritis menanggapi
fenomena ini, padahal kita sebenarnya berada pada pihak yang dirugikan.
Seharusnya kita menuntut agar acara-acara yang
ditayangkan pada jam prime time adalah acara yang berkualitas,
mendidik. Walaupun merupakan acara hiburan setidaknya cara pengemasan dan peyajiannya
dibuat sebaik mungkin. Wajar apabila kita menuntut demikian, karena dengan
adanya kita sebagai pemirsa eksistensi stasiun televisi masih bertahan sampai
saat ini.
Memang diperlukan proses yang panjang untuk
menjadikan pemirsa televisi Indonesia sadar atau paham tentang acara-acara yang
sebenarnya dibutuhkan. Tidak cukup menjadi pemirsa latah yang selalu terbawa
dalam pengarusutamaan.
Seridaknya, budaya “jam belajar” yang sudah
digantikan dengan prime time masih bisa diisi dengan acara-acara yang
berkualitas dan mendidik. Karena dengan adanya prime time peralihan
budaya membaca ke budaya menonton akan semakin cepat.
Namun bukan hal yang mustahil untuk kembali ke
budaya “jam belajar”. Bukan hal yang sulit untuk tidak menjadi pemirsa di jam prime
time. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mematikan televisi
pukul 18.00 sampai 21.00. Secara otomatis kita akan mengisi waktu dengan hal
yang lebih positif ketika televisi dimatikan. Kemudian ketika kegiatan belajar
atau ibadah sudah selesai kita gunakan waktu untuk beristirahat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar