oleh Ihsan Tandjung
ku berjudul asli Al-Iman wa
Nawaqidhuhu & At-Tibyan Syarhu Nawaqidhil Iman. Buku ini ditulis oleh duet
Dr Safar Hawali & Syaikh Sulaiman Nashir Ulwan. Buku ini diterbitkan oleh
penerbit Etoz Publishing. Yang menariknya, penerbit menerjemahkan judul buku
tersebut dengan atraktif sekaligus menghentak sanubari. Judul bahasa
Indonesianya ialah Murtad Tanpa Sadar Kok Bisa?
Benar saudaraku. Ternyata di
dalam hidup ini ada perkara-perkara yang jika dilakukan, bahkan sekedar
diucapkan, dapat menjerumuskan seorang muslim ke dalam sebuah keadaan murtad
tanpa sadar. Artinya, ia tidak sekedar terlibat dalam sembarang dosa. Tapi ia
terlibat ke dalam urusan yang dapat menyebabkan batalnya keimanan serta
keislamannya. Hal ini menjadi lebih serius jika kita kaitkan dengan kondisi
zaman modern yang sangat sarat dengan fitnah (ujian) terhadap iman seorang
muslim. Sehingga kita jadi teringat sebuah hadits di mana Rasulullah Muhammad
صلى الله عليه و سلم bersabda:
بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ
كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah
seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi
mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya
menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad, No.
8493)
Sungguh penulis khawatir bahwa
kondisi dunia dewasa ini persis sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم gambarkan
di dalam hadits di atas. Laksana malam yang gelap gulita. Fitnah (ujian) telah
meliputi segenap aspek kehidupan modern. Dan derajat fitnah tersebut sedemikian
rupa sehingga potensial menyebabkan seorang muslim sulit memelihara ke-istiqomahannya.
Pagi masih dinilai Allah سبحانه و تعالى beriman, namun sore harinya telah
menjadi kafir. Bayangkan…! Nabi صلى الله عليه و سلم di dalam hadits di atas
tidak menggambarkan kondisi gelap gulita tersebut berakibat sekedar “di waktu
pagi berbuat kebaikan dan di waktu sore berbuat kejahatan”. Sebab jika demikian
penggambarannya, masih lebih ringan. Sebab betapapun seseorang melakukan
kejahatan, ia masih mungkin dipandang tetap memiliki iman. Sedangkan Nabi صلى
الله عليه و سلم jelas-jelas menggambarkan bahwa kegelapan akibat rangkaian
fitnah tersebut berakibat “seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu
sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir”. Wa
na’udzu billahi min dzaalika…!
Mari kita lihat contohnya. Sebut
saja Pembatal Keislaman nomor empat dan nomor sembilan. Pembatal Keislaman
nomor empat di dalam buku MTS (Murtad Tanpa Sadar) ialah “Meyakini Bahwa Selain
Petunjuk Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Lebih Sempurna Daripada
Petunjuknya”. Sedangkan Pembatal Keislaman nomor sembilan ialah “Meyakini Bahwa
Manusia Boleh Keluar Dan Tidak Mengikuti Syariat Allah سبحانه و تعالى dan
RasulNya صلى الله عليه و سلم ”.
Sungguh, tidak sedikit muslim di
era modern ini yang terjatuh kepada dua perkara di atas. Mereka masih menaruh
harapan kepada petunjuk, panduan, isme, ideologi, bimbingan hidup, sistem hidup
atau falsafah hidup selain yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى dan
RasulNya صلى الله عليه و سلم . Lalu mereka memperlakukan berbagai petunjuk
tersebut seolah setara bahkan lebih baik dan lebih sempurna daripada ajaran
Al-Islam. Mereka meragukan Al-Islam sebagai pemersatu keanekaragaman ummat
manusia lalu meyakini ada selain Al-Islam yang dapat memainkan peranan
pemersatu tersebut. Seolah mereka mengabaikan kesempurnaan ajaran atau syariat
Allah سبحانه و تعالى. Lalu menaruh kepercayaan akan kesempurnaan ajaran atau
isme lainnya. Padahal di dalam Al-Qur’an dia membaca ayat Allah سبحانه و تعالى
yang berbunyi:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu
jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 3)
Salah satu faham modern yang
dewasa ini secara gencar dikampanyekan oleh masyarakat Barat (baca: kaum Yahudi
dan Nasrani) ialah Pluralisme. Sebagian besar penghuni planet bumi dewasa ini
telah terpengaruh dan percaya kepada faham tersebut. Mereka memandangnya
sebagai sebuah faham yang baik dan positif. Bahkan faham ini telah dipandang
sebagai indikator kemajuan atau kemodernan seseorang atau bahkan suatu bangsa.
Memang, pada tahap awal, Pluralisme mengajarkan suatu hal yang baik yaitu
keharusan setiap orang agar menghormati orang lain apapun latar belakang agama
dan keyakinannya. Sampai di sini kita tidak punya masalah dengan ajaran ini.
Bahkan Islam-pun menganjurkan kita untuk berlaku demikian. Tetapi persoalannya,
Pluralisme tidak menerima jika seseorang hanya sebatas memiliki sikap seperti
itu. Ia menuntut setiap orang agar mengembangkan “sikap modern” sedemikian rupa
sehingga tanpa ragu dan bimbang rela berkata: “Semua agama baik. Semua agama
sama. Semua agama benar.” Nah, jika seorang muslim sampai rela mengeluarkan
kata-kata seperti itu, barulah ia benar-benar diakui sebagai seorang penganut
Pluralisme. Barulah ia akan diberi label “muslim modern” dan “muslim moderat”
oleh masyarakat dunia, khususnya masyarakat barat.
Apa masalahnya bila seorang
muslim berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”?
Saudaraku, ungkapan seperti itu menunjukkan bahwa yang mengucapkannya tidak
setuju dengan beberapa ayat di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Padahal
ketidaksetujuan seseorang akan isi Al-Qur’an menunjukkan bahwa dirinya
meragukan kebenaran fihak yang telah mewahyukannya, yaitu Allah سبحانه و تعالى
. Padahal tidak ada satupun firman Allah سبحانه و تعالى yang mengandung
kebatilan. Subhaanallah…! Seluruh isi Al-Qur’an sepatutunya diterima oleh
setiap orang yang mengaku muslim sebagai kebenaran mutlak, karena ia merupakan
Kalamullah (ucapan-ucapan Allah سبحانه و تعالى). Sehingga setiap malam saat
sholat tahajjud Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم selalu membaca doa yang
sebagian isinya berbunyi:
أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ
حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ
“…(Ya Allah) Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar),
dan janji-Mu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar dan
firman-Mu benar…” (HR. Bukhari, No 1053)
Maka seorang muslim yang
termakan oleh faham Pluralisme sehingga melontarkan kalimat-kalimat batil
seperti di atas sungguh potensial terjangkiti virus MTS. Sebab ia
sekurang-kurangnya telah menolak tiga ayat Al-Qur’an. Ia telah memandang
dirinya lebih cerdas daripada Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha
Benar pengetahuannya. Ketiga ayat tersebut ialah:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah
hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ
يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا
مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di
akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang
muslim.” (QS. Al-Hijr [15] : 2)
Bagaimana mungkin seorang muslim
yang pernah membaca ketiga ayat di atas, sambil mengaku beriman akan Al-Qur’an
sebagai kumpulan firman Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar
pengetahuannya, lalu akan dengan ringannya tega melontarkan kata-kata: “Semua
agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”?
Coba perhatikan cuplikan diskusi
yang sering terjadi di sekitar kita. Ada beberapa orang sedang mendiskusikan
soal perselisihan antar dua kelompok berbeda agama yang terjadi di tengah
masyarakat. Yang satu kelompok kaum muslimin, sedangkan yang satu lagi kelompok
kaum non-muslim. Lalu masing-masing fihak mempertahankan argumennya
masing-masing. Akhirnya suasana diskusi menjadi panas dan hampir tidak
terkendali. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka melontarkan sebuah upaya
menenteramkan situasi dengan melontarkan kata-kata: “Sudahlah tenman-teman.
Marilah kita ingat selalu bahwa kita ini kan satu bangsa. Agama boleh berbeda.
Tapi kita kan tetap satu bangsa. Toh, setiap agama kan maksudnya baik.
Tujuannya mulia. Dan semuanya kan menuju tujuan yang sama yaitu Tuhan Yang Maha
Esa. Kenapa sih kita tidak bisa saling memahami dan bersikap toleran?”
Bukankah contoh kasus di atas
merupakan suasana yang sangat sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari
kita? Dan diskusi hangat dengan akhir seperti itu kian hari kian mudah kita temui
belakangan ini. Kasus dan pelaku perselisihan boleh berbeda, tapi ujung akhir
penyelesaiannya kurang lebih sama. Yaitu mengakui bahwa setiap agama punya
maksud yang sama dan baik. Benarkah demikian? Kalaulah semua agama punya maksud
dan tujuan yang sama dan baik, lalu mengapa kita harus memilih Al-Islam?
Mengapa kita tidak pilih yang lainnya saja? Bukankah Islam secara praktek lebih
rumit dan menuntut pengorbanan dibandingkan yang lainnya? Islam mewajibkan
setiap muslim sholat beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى sekurangnya lima kali
sehari-semalam. Islam mewajibkan setiap satu tahun sekali selama sebulan penuh
muslim menahan rasa lapar, dahaga dan berhubungan suami-istri di siang hari.
Mengapa tidak kita pilih agama lainnya yang lebih sederhana dan ringan?
Artinya, pandangan yang mengatakan bahwa semua agama bermaksud “sama dan baik”
mengingkari statement Allah سبحانه و تعالى yang berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah
hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ
يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)
Realitasnya dewasa ini sangat
mudah kita jumpai di sekeliling kita kaum muslimin yang melontarkan kata-kata
batil seperti di atas. Astaghfirullahal ‘azhiem. Allahummagh fir lil muslimin
wal muslimat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum Muslimin dan Muslimat. Laa
haula wa laa quwwata illa billah…!
Ya Allah, lindungilah kami dari virus penyakit
murtad tanpa sadar di era modern penuh fitnah ini. Amiin. Amiin ya Rabbal
‘aalamiin.
اللهم إني أعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ
الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari cobaan yang
memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian
musuh.” (HR. Bukhari, No. 5871)
Filed under: – – – dari eramuslim.com |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar