Pada 11 Maret 2011, dunia dikagetkan dengan
bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang. Tidak sekadar meluluhlantahkan
sebagian Negara Sakura ini hingga mengalami kerugian yang fantastis, tapi
Jepang juga dihadapkan pada permasalahan baru yakni kebocoran reaktor nuklir.
Sepanjang sejarah, kebocoran reaktor nuklir
terburuk terjadi di Chernobyl, Ukraina pada April 1986. Selain mengharuskan
evakuasi terhadap ribuan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian, dampak
kesehatan masih dirasakan para korban hingga bertahun-tahun kemudian. Sebut
saja kanker, gangguan kardiovaskular yang tak sedikit berujung pada kematian.
Kejadian ini jelas membayangi dan menyebabkan kekhawatiran warga Jepang akan
mengulang sejarah yang pernah terjadi di Ukraina 15 tahun silam ini.
Dalam fisika nuklir, sebuah
reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau
partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi
hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat
melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut
sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa
berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini
disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi
nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan
menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi
nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya,
dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi
elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan
gamma yang sangat berbahaya bagi manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_nuklir,
diakses tanggal 15 April 2011).
Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang
terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta. Senjata bom hidrogen juga
memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah
ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir, juga termasuk
kerja reaktor yang bocor yang terjadi di Jepang.
Namun, bagai dua buah sisi mata uang, dalam dunia
kesehatan maupun teknologi, nuklir tidak hanya berefek negatif saja tapi juga
selalu diikuti efek positif. Nuklir dalam dunia kesehatan misalnya dapat
digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa penyakit sekaligus dapat pula
memberikan terapi. Henry Bacquerel penemu radioaktivitas telah membuka cakrawala
nuklir untuk kesehatan. Sedangkan Wilhelm Rontgen, menemukan sinar rontgen
ketika gambar jari dan cincin istrinya ada pada film. Sedangkan Marie Currie
mendapatkan hadiah Nobel atas penemuannya, radium dan polonium. Dari awal
penemuan sampai dengan 1960-an radium telah digunakan untuk kesehatan (http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_nuklir,
diakses tanggal 15 April 2011).
Masyarakat kedokteran biasanya menggunakan
radioisotop radium ini untuk pengobatan kanker, atau yang lebih dikenal dengan
nama brakiterapi. Meskipun kemudian banyak ditemukan radiosiotop yang lebih
menjanjikan untuk brakiterapi, sehingga radium sudah tidak direkomendasikan
lagi untuk digunakan, namun radioisotop tetap bisa diandalkan untuk diagnosa
penyakit yang juga memanfaatkan instrumen yang disebut dengan pesawat gamma
kamera atau SPECT (Single Photon Emission Computed Thomography).
Sedangkan aplikasi untuk terapi sumber radioisotop terbuka ini seringkali para
pakar menyebutnya sebagai endoradioterapi.
Selain itu ternyata nuklir juga dapat digunakan
di bidang pertanian, seperti pemuliaan tanaman sorgum dan gandum dengan melalui
metode induksi mutasi dengan sinar gamma. Sedangkan dalam bidang energi, nuklir
dapat berperan sebagai penghasil energi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
(PLTN). PLTN dapat menghasilkan energi yang lebih besar dibandingkan pembangkit
lainnya, dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah.
Seperti yang telah saya singgung di awal tadi,
nuklir juga dapat memberikan efek negatif terhadap perkembangan kesehatan
manusia, jika digunakan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Secara
alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan
sel akibat radiasi maupun zat kimia berbahaya lainnya. Radiasi yang terlalu
tinggi dapat mengalahkan mekanisme perlindungan ini, sehingga menimbulkan efek
yang tidak baik bagi kesehatan manusia.
Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang
mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang
dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah
seberapa lama korban terkena oleh radiasi (http://www.artikelkedokteran.com/2011/%E2%80%9Cdampak-positif-dan-negatif-dari-nuklir%E2%80%9D,
diakses tanggal 15 April 2011)
Ketiga faktor tersebut sangat berperan penting
terhadap dampak yang akan diterima oleh orang-orang yang terkena reaktor
nuklir. Radiasi yang terlalu tinggi dapat menimbulkan gejala akut. Walaupun
tidak terdapat gejala bukan berarti tidak menimbulkan bahaya karena radiasi
dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih berbahaya.
Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi
tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual hingga muntah, diare, sakit
kepala, dan demam. Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar
radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya pusing, mata berkunang-kunang,
disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu,
kerontokan rambut dan kebotakan, muntah darah atau berak darah, tekanan darah
rendah, dan luka susah sembuh.
Sedangkan dampak kronis alias jangka panjang dari
radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah namun
secara rutin terpejan sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga
bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka
panjang adalah kanker, penuaan dini, gangguan sistem saraf dan reproduksi,
serta mutasi genetik.
Dalam bencana yang menimpa Negara Matahari Terbit
itu, Mensesneg Jepang Yukio Edano memberikan keterangan, level radiasi di PLTN
Fukushima yang bermasalah mencapai 400 millisieverts (mSv) per jam atau ribuan
kali lebih tinggi ketimbang sebelum terjadi ledakan. Level itu merupakan 20
kali lebih banyak ketimbang level tahunan yang biasa dialami pekerja industri
nuklir atau penambang uranium. Sehingga jika penanggulangan kebocoran reaktor
nuklir ini tidak segera diatasi maka besar kemungkinan masyarakat yang terkena
radiasi akan berpotensi mengalami gejala akut akibat radiasi dalam jangka waktu
yang panjang.
Berdasarkan data World Nuclear Association,
eksposur terhadap 350 mSv, merupakan kriteria untuk merelokasi penduduk pasca
tragedi Chernobyl di Ukraina pada 1986, angka tersebut 100 mSv lebih rendah
dibanding dengan level radiasi di PLTN Fukushima. Eksposur terhadap 100 mSv
atau lebih per tahun merupakan level terendah di mana risiko munculnya sel
kanker mulai terlihat. Paparan kumulatif 1.000 mSv kemungkinan akan menyebabkan
kanker fatal yang akan keluar beberapa tahun kemudian, pada lima banding 100
orang yang terpapar. Dosis paparan sebesar 1.000 mSv akan menyebabkan penyakit
radiasi seperti mual, namun tidak berpotensi pada kematian. Dosis tunggal 5.000
mSv akan menewaskan setengah dari yang terekspos dalam waktu satu bulan.
Melihat paparan dosis radiasi dengan angka-angka
fantastis di atas, maka tidak mengherankan jika dampak kebocoran reaktor nuklir
Jepang diisukan akan melanda sampai Indonesia. Meskipun hal itu tidak sampai
terjadi namun kabar barung tersebut cukup menghebohkan dan membuat kekhawatiran
masyarakat di tanah air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar