Kata siapa orang muslim kalah oleh orang2 kafir?
Org tertampan di dunia adalah Nabi Adam dan Nabi Yusuf.
Org tercantik di dunia adalah Hawwa dan Sarah istrinya Nabi Ibrahim.
Org terkaya di dunia adalah Nabi Sulaiman.
Org yang menguasai seluruh dunia adalah Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain.
Org terpandai adalah Nabi Adam.
Org yang sdh melewati luar angkasa, bahkan sampai langit ke-7 adalah Nabi Muhammad.
Adakah orang2 kafir yang bisa menandingi mereka?
Org tertampan di dunia adalah Nabi Adam dan Nabi Yusuf.
Org tercantik di dunia adalah Hawwa dan Sarah istrinya Nabi Ibrahim.
Org terkaya di dunia adalah Nabi Sulaiman.
Org yang menguasai seluruh dunia adalah Nabi Sulaiman dan Dzulqarnain.
Org terpandai adalah Nabi Adam.
Org yang sdh melewati luar angkasa, bahkan sampai langit ke-7 adalah Nabi Muhammad.
Adakah orang2 kafir yang bisa menandingi mereka?
jika dinilai dari zaman sekarang
malah gak ada apa2nya, kelebihan2 yg dimiliki oleh org kapir sekarang. Seperti
kekayaannya Bill Gates, malah sangat jauh sekali dan tidak memiliki arti apa2
dibanding Nabi Sulaiman sejak dulu sampai sekarang….
Adapun jika dibandingkan dengan org muslim yg sekarang adalah Wallahu a’lam. Karena survei2 yg byk dilakukan utk menentukan yang terkaya, tertampan, tercantik, terpintar, dan ter..ter…semuanya kebanyakan dilakukan oleh orang2 kapir sendiri, ya jelas saja kalo semuanya itu sesuai dengan kemauannya. Karena mereka menilai hanya dari sebatas apa yg mereka tahu saja dan yakini. Tidak lepas kemungkinan jika kita husnuzhan, byk org2 muslim yg mungkin lebih menandingi mereka (org kapir) namun tidak diekspos oleh orang muslim sendiri, atau dirahasiakan agar tidak terkesan ujub atau riya. Wallahu a’lam.
Adapun jika dibandingkan dengan org muslim yg sekarang adalah Wallahu a’lam. Karena survei2 yg byk dilakukan utk menentukan yang terkaya, tertampan, tercantik, terpintar, dan ter..ter…semuanya kebanyakan dilakukan oleh orang2 kapir sendiri, ya jelas saja kalo semuanya itu sesuai dengan kemauannya. Karena mereka menilai hanya dari sebatas apa yg mereka tahu saja dan yakini. Tidak lepas kemungkinan jika kita husnuzhan, byk org2 muslim yg mungkin lebih menandingi mereka (org kapir) namun tidak diekspos oleh orang muslim sendiri, atau dirahasiakan agar tidak terkesan ujub atau riya. Wallahu a’lam.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
berkata, “Allah Azza wa Jalla membagi keindahan (ketampanan dan kecantikan) ke
dalam 10 bagian, 3 bagian utk Hawwa, 3 bagian utk Sarah, 3 bagian utk Yusuf,
dan 1 bagian utk seluruh manusia.” (Tarikh Madinati Dimasyqa, hal. 122 ttg
biografi para wanita. Dinukil dari ktb Nisa’ul Anbiya’i fi Dhaulil Qur’an was
Sunnah)
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي
الْبِلَادِ مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Janganlah sekali-kali kamu
terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dlm negeri. Itu hanyalah
kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; &
Jahannam itu adalah tempat nan seburuk-buruknya. [Ali Imran / 3: 196-197]
Akhir-akhir ini nampak fenomena,
adanya sebagian kaum Muslimin nan silau dgn tatanan kehidupan orang kafir nan
begitu apik. Ketakjuban sebagian kaum Muslimin, lantaran orang-orang kafir
sangat menjaga kedisiplinan, kerapihan, kebersihan, juga kesehatan. Juga karena
kemajuan teknologi informasi, komunikasi ataupun peradaban dunia nan telah
mereka capai. Padahal itu hanyalah gambaran secara parsial semata. Di balik itu
semua, perangai mereka bagaikan serigala nan sangat lapar, memendam dendam
kepada kaum Muslimin. Mereka menunggu waktu nan tepat utk menancapkan kaki-kaki
demi menguasai umat Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam. Belum lagi dgn
kekufuran nan menancap dlm hati, maka dgn tipu muslihatnya, mereka berusaha
menyembunyikan tipu dayanya kepada kaum Muslimin. Sehingga sangat aneh, apabila
ada seorang muslim nan terpana & terpesona, & akhirnya menyanjung
orang-orang kafir.
Masih membekas di ingatan,
kebengisan mereka, kaum imperialis kolonialis (Barat), ketika menjajah tanah
kaum Muslimin. Mereka merampak hak & kehormatan kaum Muslimin. Berbagai
jenis siksaan, pembunuhan, pengusiran, hinaan & perampasan serta tindakan
aniaya lainnya, mereka lakukan tanpa peri kemanusian. Adapun pada masa
sekarang, dgn semangat kapitalis, mereka pun tetap menjajah negeri-negeri kaum
Muslimin. Apakah pantas mereka dipuja?
_____________________________________________
_____________________________________________
PENJELASAN AYAT
Ayat di atas merupakan pesan berharga, utk menjadi peringatan bagi kaum Muslimin agar tak terpedaya dgn kaum kemewahan orang-orang kafir.
Ayat di atas merupakan pesan berharga, utk menjadi peringatan bagi kaum Muslimin agar tak terpedaya dgn kaum kemewahan orang-orang kafir.
Ibnu Katsir rahimahullah
mengatakan (Tafsir al Qur`ani al ‘Azhim ( 1 /431 )): “Janganlah kalian melihat
berbagai kenikmatan, kebahagian & kemudahan orang-orang kafir. Tidak berapa
lama lagi, semuanya akan lenyap dari tangan mereka. Nantinya, mereka akan
terjerat oleh amalan-amalan buruk mereka. Kami memberikan kemudahan mereka di
sana, sebagai istidraj semata. Semua nan mereka miliki hanyalah (kesenangan
sementara). Kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; & Jahannam itu
adalah tempat nan seburuk-buruknya”.
Ayat-ayat nan senada maknanya
dgn ayat ini tidaklah sedikit. Bahwasannya, mereka akan hakikatnya mendapatkan
kenikmatan nan tak langgeng & tak kekal. Mereka menikmatinya sejenak, &
akan mengalami siksaan panjang karenanya. (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)
Orang nan lemah iman & cinta
dunia, ia akan terpesona dgn kemewahan hidup orang-orang kafir, hingga
berangan-angan bisa merengkuhnya & hidup bersama mereka, manakala
menyaksikan kondisi mereka nan selalu terpenuhi dgn fasilitas duniawi nan serba
mewah. Seperti nan telah diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang para
pengikut Qarun nan melihatnya dlm kemegahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ
الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ
قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Maka keluarlah Qarun kepada
kaumnya dlm kemegahannya. Berkatalah orang-orang nan menghendaki kehidupan
dunia: “Moga-moga kiranya kita ini mempunyai seperti apa nan telah diberikan
kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan nan besar”. [al
Qashash/28: 79].
Itulah gambaran orang nan
orientasi hidupnya ditujukan kepada dunia, tak memikirkan bahwa dunia ini akan
musnah. Apalagi bila sempat mencicipi hidup dlm komunitas sosial di negeri
kafir, nan lahirnya terlihat asri, hijau, bersih, dgn pemandangan memikat.
Adapun orang nan kuat imannya,
ia tak akan terpana dengannya. Sebab ia membaca pesan-pesan Allah, seperti pada
ayat di atas & pada ayat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا
بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ
وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Dan janganlah kamu tujukan kedua
matamu kepada apa nan telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka,
sebagai bunga kehidupan di dunia utk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia
Rabb-mu adalah lebih baik & lebih kekal. [Thaha/20: 131].
Seseorang nan kuat imannya, akan
mengetahui dgn yakin pula, kemewahan nan dinikmati tersebut tak akan menjadi
kebaikan bagi mereka. Sebab ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ
وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ
Apakah mereka mengira bahwa
harta & anak-anak nan Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami
bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak; sebenarnya mereka
tak sadar. [al Mukminun/23: 56].
Bagaimana mungkin merupakan
kebaikan bagi mereka, kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala justru akan menjadikannya
sebagai sumber bencana bagi? Allah berfirman:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا
نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا
إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Maka janganlah harta benda &
anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dgn (memberi)
harta benda & anak-anak itu utk menyiksa mereka dlm kehidupan di dunia
& kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dlm keadaan kafir. [at
Taubah/9: 55]
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا
نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا
إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Dan janganlah sekali-kali orang
kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik
bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya
bertambah-tambah dosa mereka; & bagi mereka adzab nan menghinakan. [ِAli
Imran/3: 178].
Alangkah buruk suatu kemewahan
& limpahan harta, bila akhirnya menjadi siksaan. Begitu pula, orang nan
suka berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun berada dlm
kenikmatan duniawi nan berlebih, maka sesungguhnya kenikmatan nan ia reguk
hanya merupakan istidraj (penangguhan tempo siksaan dgn memberi kenikmatan.)
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir
Radhiyallahu dari Nabi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ
الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ
تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا نَسُوا مَا
ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا
فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Bila engkau menyaksikan Allah mencurahkan (nikmat)
dunia kepada seseorang nan ia inginkan lantaran maksiat (yang ia kerjakan), itu
hanyalah suatu istidraj, kemudian beliau membaca ayat (yang artinya: Maka
tatkala mereka melupakan peringatan nan telah diberikan kepada mereka, Kamipun
membukakan semua pintu-pintu kesenangan utk mereka; sehingga apabila mereka
gembira dgn apa nan telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dgn
sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. –QS al An’am/6
ayat 44-). [HR Ahmad, 4/145 dgn sanad shahih, & dishahihkan Syaikh al
Albani dlm ash Shahihah, 413].
Kalaupun orang kafir memiliki kenikmatan &
kesenangan di dunia, maka tak ada kenikmatan bagi mereka selain itu saja. Allah
Subhanahu a berfirman:
وَلَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي
الْكُفْرِ ۚ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا
يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Janganlah kamu disedihkan oleh
orang-orang nan segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tak sekali-kali dapat
memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tak akan memberi
sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, & bagi mereka
azab nan besar. [Ali Imran/3: 176].
Imam al Bukhari rahimahullah
& Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan kisah ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu nan
memasuki rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk menjumpai beliau.
Ia sangat prihatin dgn keadaan & sedikitnya harta nan beliau miliki. Umar
bercerita:
Aku menjumpai beliau. Ternyata
beliau sedang berbaring di gelaran di atas pasir tanpa ada (dasar) kasurnya.
Kerikil-kerikil membekas pada sisi tubuh beliau. Beliau bersandar pada sebuah
bantal terbuat dari kulit nan berisi serabut pohon kurma. Aku pun melontarkan
salam kepada beliau…aku duduk ketika melihat beliau tersenyum. Begitu pandangan
aku arahkan ke (isi) rumah, demi Allah, aku tak melihat adanya sesuatu nan
memikat pandangan, kecuali 3 kulit samakan. Aku pun berkata:
ادْعُ اللَّهَ فَلْيُوَسِّعْ عَلَى أُمَّتِكَ فَإِنَّ
فَارِسَ وَالرُّومَ وُسِّعَ عَلَيْهِمْ وَأُعْطُوا الدُّنْيَا وَهُمْ لَا
يَعْبُدُونَ اللَّهَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَوَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ
الْخَطَّابِ أُولَئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ اسْتَغْفِرْ لِي
“Mintalah kepada Allah agar memudahkan (kehidupan)
umatmu. Sesungguhnya bangsa Persia & Rumawi, mereka mendapatkan kemudahan
(dalam hidup), & diberi kenikmatan dunia, padahal mereka tak menyembah
Allah”. Sebelumnya beliau bersandar (kemudian duduk), setelah itu berkata:
“Apakah engkau masih ragu wahai putra al Khaththab? Mereka adalah kaum nan
disegerakan kenikmatan mereka di dunia in,i” aku (pun) berkata,”Wahai
Rasulullah, mintakan ampunan bagiku. “
Lantaran dunia itu bernilai
rendah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikannya kepada orang kafir juga.
Pemberian di dunia tak menunjukkan penghormatan bagi nan menerimanya.
Sebaliknya, demikian pula dgn terhalanginya seseorang dari rizki, bukan berarti
sebagai indikasi penghinaan terhadapnya. Seorang muslim tak berasumsi demikian.
Sehingga ayat di atas bisa menjadi penghibur bagi kaum Muslimin. Syaikh as Sa’di rahimahullah berkata,”Ayat ini (ayat di atas) dimaksudkan sebagai penghibur dari (fenomena) apa nan diperoleh orang-orang kafir dari harta dunia & kehidupan mereka nan menyenangkan, serta tingginya mobilitas mereka di berbagai wilayah dgn bermacam-macam perniagaan, usaha & kenikmatan, juga banyaknya kekuasaan & kemenangan dlm beberapa kesempatan. ” (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)
Sehingga ayat di atas bisa menjadi penghibur bagi kaum Muslimin. Syaikh as Sa’di rahimahullah berkata,”Ayat ini (ayat di atas) dimaksudkan sebagai penghibur dari (fenomena) apa nan diperoleh orang-orang kafir dari harta dunia & kehidupan mereka nan menyenangkan, serta tingginya mobilitas mereka di berbagai wilayah dgn bermacam-macam perniagaan, usaha & kenikmatan, juga banyaknya kekuasaan & kemenangan dlm beberapa kesempatan. ” (Taisiru al Karimi ar Rahman: 162)
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
إنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّـنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَ مَن
لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانِ إلاَّ مَنْ يُحِبُّ فَإذَا أحَبَّ اللهُ
عَبْداً أعْطَاه ُ الإيْمَانٍِ
Sesungguhnya Allah memberi dunia kepada orang nan
disenangi & orang nan tak disukai. Tidak memberikan karunia iman, kecuali
kepada orang nan dicintaiNya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya
Allah memberinya karunia iman. [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, 34545 &
dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dlm Shahih al Adabi al Mufrad, hlm. 209].
Sebabnya, tiada lain, karena dunia itu murah,
sedangkan seorang mukmin adalah insan nan bernilai lagi berharga. Allah
memberinya anugerah nan paling bernilai, yaitu kebahagiaan di akhirat.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Dan sesungguhnya akhir (akhirat) lebih baik bagimu
dari permulaan (kehidupan dunia). [adh Dhuha/93: 4].
Apabila, dunia ini lepas dari
tangan seorang mukmin, & dinikmati oleh orang nan kafir, maka seorang nan
mukmin itu tak dirundung duka, & ia tetap bersyukur, lantaran mendapatkan
nikmat iman, agama nan shahih & kitab (al Qur`an) nan terbebas dari hawa
nafsu & campur tangan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي
وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ
أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ
لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu 7 ayat
nan dibaca berulang-ulang & al Qur`an nan agung. Janganlah sekali-kali kamu
menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup nan telah Kami berikan kepada
beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), & janganlah
kamu bersedih hati terhadap mereka, & berendah dirilah kamu terhadap
orang-orang nan beriman. [al Hijr/15: 87-88].
Dalam 2 ayat di atas, terdapat 4 pelajaran penting.
1. Seseorang nan telah menerima al Qur`an, maka sesungguhnya ia telah memegang kendali seluruh kebaikan, sehingga jangan bersedih?
1. Seseorang nan telah menerima al Qur`an, maka sesungguhnya ia telah memegang kendali seluruh kebaikan, sehingga jangan bersedih?
2. Allah melarang mengalihkan pandangan kepada
harta benda milik orang-orang kafir. Tidaklah terperdaya dengannya, kecuali
para pecundang. Ibnu Katsir menerangkan: “Merasa cukuplah dgn apa nan diberikan
Allah, yaitu al Qur`an dgn melupakan apa nan mereka miliki, berupa harta &
kenikmatan nan akan sirna”.
3. Orang-orang kafir tak memiliki daya tarik
kebaikan, maka sudah sepantasnya mengarahkan pandangan kepada orang-orang nan
beriman & dikaruniai al Qur`an. (3 ini dari al Mawahib ar Rabbaniyah karya
as Sa’di (hlm. 64) )
4. Allah memerintahkan kaum Mukminin utk tawadhu`.
Dan perintah ini bukan kepada orang-orang kafir.
LARANGAN MEMUJI ORANG KAFIR
Umat Islam merupakan umat terdepan. Tidak sepatutnya mengekor & takjub terhadap orang-orang nan dicela oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan umat Islam ini dgn sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Umat Islam merupakan umat terdepan. Tidak sepatutnya mengekor & takjub terhadap orang-orang nan dicela oleh Allah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan umat Islam ini dgn sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
نَحْنُ الْآخِرُونَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا
وَالْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ
Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia &
menjadi umat pertama di hari Kiamat. nan pertama ditetapkan keputusannya
sebelum makhluk-makhluk lainnya. [HR Muslim, 856].
Bila seorang muslim telah mengetahui kemuliaan nan
diberikan Allah berikan kepada umat ini, maka wajib atasnya utk memuliakannya
juga, & menjauhi berbagai sikap nan merendahkannya. Terutama sikap nan
justru akan mendukung sepak terjang musuh utk memperdaya Islam.
Selain itu, sudah menjadi prinsip dlm Islam, yaitu
mencintai kaum Mukminin & wala (loyal) terhadap mereka, & membenci kaum
kuffar serta berlepas diri dari mereka. Bertasyabbuh dgn mereka pun tak boleh.
Pujian terhadap kaum kuffar nan muncul dari
sebagian kaum muslimin, tak lain karena lemahnya iman & kepribadian mereka,
serta kaum Muslimin tersebut lalai dari prinsip di atas. Pada umumnya, faktor
pemicunya adalah terkesan dgn apa nan dimiliki mereka, nan didorong oleh cinta
dunia.
Bagaimanapun, meski kehidupan kaum kuffar sangat
menarik, tetapi mereka, tak lepas dari firman Allah:
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui nan lahir (saja) dari
kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. [ar
Rum/30: 7].
Allah membuat permisalan, mereka
bagaikan himar atau keledai (al Jumu’ah/62: 5), anjing (al A’raf/7: 175-177),
lebih buruk dari binatang ternak (al Furqan/25: 44), atau orang-orang nan bisu,
tuli & buta (al Baqarah/2 ayat 171). Apakah seorang muslim ridha utk memuji
kaum kuffar dgn pujian & sanjungan, dgn dalih ingin inshaf (……) &
bersikap adil? Padahal permisalan dari Allah tentang mereka sedemikian rupa
buruknya? Kekufuran merupakan jenis sayyiah (kejelekan), nan akan menampik
hasanah (sebelum digantikan dgn keimanan).
Nabi n juga sudah melakukan ini.
Begitu mendengar ada pujian nan terlontar kepada kaum kuffar, maka beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menepisnya. Dari ‘Aisyah, ia bercerita
tentang sebagian isteri beliau nan mengagumi keindahan sebuah gereja Mariyah di
Habasyah. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
Mereka itu makhluk nan paling buruk di sisi Allah.
[Muttafaqun ‘alaih].
Larangan memuji orang kafir manfaatnya sangat jelas.
1. Kaum Muslimin akan selamat dari mengekor hal-hal terlarang nan ada pada mereka, sehingga kepribadian sebagai muslim pun tetap terjaga.
1. Kaum Muslimin akan selamat dari mengekor hal-hal terlarang nan ada pada mereka, sehingga kepribadian sebagai muslim pun tetap terjaga.
2. Pujian nan ditujukan kepada kaum kuffar tidaklah
cocok. Sebab, tindak-tanduk lahiriahnya bertentangan dgn jati diri mereka nan
asli. Sebagai bukti, yaitu dlm interaksi sosial mereka. Sebagai contoh, mereka
mengembangkan cara hidup pergaulan bebas, homo, lesbian, rasialis, &
lainnya. Cara mereka dlm menjalin hubungan antar individu menjadi contoh
konkrit tentang kebejatan moral nan mereka miliki. Negara-negara nan miskin,
justru dijerumuskan ke dlm lembah hutang, nan tak tahu kapan akan terlunasi.
Hingga akhirnya, perlakuan layaknya budak menjadi pemandangan sehari-hari di
media massa.
Apakah berarti kaum Muslimin dilarang mengambil
manfaat hasil teknologi nan sudah mereka capai?
Jawaban pertanyaan ini, tentu saja tidak, selama
tak terdapat pelanggaran syariat, & benar-benar berguna bagi kepentingan
umat, maka hal itu boleh dibolehkan. Karena, bagaimanapun orang-orang kafir
tetap memiliki rasa dendam menguasai kaum Muslimin. Renungkanlah, Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ
فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّهُمْ لَن
يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu
syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu &
janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang nan tak mengetahui. Sesungguhnya
mereka sekali-kali tak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan)
Allah. Dan sesungguhnya orang-orang nan zhalim itu sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian nan lain, & Allah adalah pelindung orang-orang nan
bertaqwa. – [al Jatsiyah/45: 18-19].
Dalam hal ini, jangan sampai ada
orang nan memahami secara keliru, bahwa setiap mukmin harus berbuat buruk
terhadap orang kafir agar kepribadiannya terjaga. Sebab, qanaah (merasa cukup)
dgn akhlak Islam & tetap mewaspadai akhlak-akhlak kaum kuffar. Allah
melarang berbuat aniaya nan melampaui batas saat membela diri, apalagi dlm
masalah lain. Allah berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ
عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan nan
serupa, maka barangsiapa mema’afkan & berbuat baik, maka pahalanya atas
(tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tak menyukai orang-orang nan zhalim. [asy
Syuura/42: 40].
Oleh karena itu, syariat melalui nash-nashnya
memerintahkan utk berbuat baik kepada semua manusia. Washallallahu ‘ala
Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wasallam.
(Diangkat dari Raf’u adz Dzulli wa ash Shaghari ‘an
al Maftunina bi Khuluqi al Kuffar, karya ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani, Cet.
I, Tahun 1426 H, dgn sedikit penambahan. (Pen))
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun
X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo –
Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647,
08157579296]
Referensi:
– https://www.facebook.com/negara.tauhid?ref=tn_tnmn
– http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhal tags: Teknologi Informasi Komunikasi, Alaihi Wa Sallam, Ali Imran, Kemajuan Teknologi, Orang Kafir
– https://www.facebook.com/negara.tauhid?ref=tn_tnmn
– http://www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Minhal tags: Teknologi Informasi Komunikasi, Alaihi Wa Sallam, Ali Imran, Kemajuan Teknologi, Orang Kafir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar