Lapar. Kelaparan.
Pernahkah kita merasakan hal
ini?
Lapar menjadi
semacam “demonstrasi” atau “aksi protes” dari perut. Organ ini minta diisi.
Kalau tidak, dia akan terus berbunyi. Lalu kita sendiri akan lemah lunglai,
serasa kehabisan energi.
Kita pasti
pernah merasakannya. Bedanya… ada yang bisa memenuhi tuntutan perut dengan
segera, ada juga yang tak berdaya. Sebab faktanya, masih ada kasus busung lapar
atau orang-orang yang memakan makanan tak layak makan akibat terlalu lapar.
Sementara di penjuru dunia lainnya, atau mungkin di pelosok negeri yang tak
terlihat, sampai ada orang meregang nyawa saking laparnya. Duh…
Nah kali ini
daku mendapat status fesbuk
Pak Arif Subiyanto yang sangat menarik. Tentang lapar. Beliau
juga menyisipkan suatu kisah yang sangat menggugah. Daku ndak akan
mengusik tulisannya, ya?! Jom!
Dalam
kosakata wong Jawa Tengah, kaliren berarti luwe banget
alias kelaparan akut. Orang yang lama kelaparan sehingga rongga perutnya kempes
sebab lama tak diisi zat makanan disebut ‘keluwen nglikik.’ Orang bisa keluwen
atau kaliren sebab mereka ‘kesrakat’ alias miskin papa.
Kelaparan dan
kefakiran seperti itulah yang saban hari saya saksikan di kampung saya dulu,
meskipun di layar televisi hitam putih ukuran 24 inch milik haji Badar
(orang terkaya di kampung saya) saban hari TVRI menyiarkan kesuksesan program
Swasembada Pangan yang digagas dan diintensifkan oleh Presiden Soeharto.
Kemiskinan
penduduk di kampung saya begitu parahnya sebab rata-rata para kepala rumah
tangga di sana adalah buruh pabrik mebel, blandong (tukang memotong atau
menggergaji kayu jati), sopir becak dan profesi rendahan lainnya. Suara bocah
keluwen mengerang di tengah malam sangat sering saya dengarkan. Sehari-hari
teman sekampung yang kaliren itu suka kelayapan dengan membawa segenggam garam
brangkalan yang dibungkus daun keladi.
Saya sering
mengikuti ‘ekspedisi’ mereka meski mendiang ibu melarang. Kami satroni tepian
Kalianyar mencari pepaya, jambu mete, jambu biji, kedondong atau mangga yang
tumbuh liar. Buah-buah itu kami rontoki dengan mengguncang-guncang dahannya.
Setelah terkumpul, kami hantam mangga atau kedondong mentah yang keras itu
dengan sebongkah batu. Semua itu dilakukan anak kampung untuk mengganjal perut.
Kalau sedang
apes tak ada buah, bocah-bocah itu akan mengambil golok, mencungkil gendon atau
semacan larva yang hidup di bongkol batang pohon turi. Gendon itu akan dibakar
bersama walang sangit lalu dikunyah dengan rakusnya. Kalau sudah tak ada buah
atau larva, mereka akan merontoki asam jawa atau mengunyah biji-biji lamtoro.
Bisa dibayangkan seperti apa bau napas mereka.
Kalau ada
penduduk punya hajat kecil dan membagikan bancakan, bukan main senangnya
anak-anak di kampung saya. Mereka dapat rejeki berupa nasi urap sepincuk dengan
bonus telur rebus yang dibelah jadi empat. Atau kalau si empunya hajat cukup
kaya, mereka boleh berharap mendapat paha ayam.
Kematian di kampung kami juga membawa
rejeki bagi anak-anak kelaparan itu. Mereka akan
menguntit iring-iringan pengusung mayat sampai ke kuburan. Di setiap
persimpangan jalan ibu-ibu pelayat akan menebarkan serpihan kembang dan uang
logam yang disebut ‘sawur ‘. Konon duit sawur itu adalah sedekah terakhir dari
si mati di dunia yang akan segera dia tinggalkan. Nah, duit sawur itu mereka
perebutkan untuk membeli jajan.
Saya cukup
beruntung. Bapak dan ibu saya guru SD, pegawai negeri yang mendapat beras jatah
dari pemerintah, sehingga keenam anaknya tak pernah mengalami kaliren. Karena
terbiasa menyaksikan kemiskinan, gizi buruk, dan kelaparan itulah, saya selalu
menghabiskan tiap butir nasi di piring saya. Bahkan butir nasi yang jatuh ke
lantai pun saya pungut dan suapkan ke mulut saya.
Semula
anak-anak saya terbiasa nggaya: entah apa alasannya, mereka selalu
meninggalkan sisa nasi di piringnya. Setelah saya kisahkan teman-teman
sekampung yang kaliren itu, barulah mereka sadar dan tertib kalau makan. Kisah Kaliren;
Alasan Kenapa Jangan Menyisakan Makanan. [Arif Subiyanto]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar