Manakah yang lebih baik dan
utama, ucapan ‘Hallo’ atau ‘Assalamu
‘alaikum’ ?
Seorang muslim pasti akan menjawab ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ lebih baik dan lebih utama.
Maka itu, tinggalkanlah ucapan ‘Hallo’ dan ganti dengan ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ dikala menelepon atau menjawab telepon.
Seorang muslim pasti akan menjawab ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ lebih baik dan lebih utama.
Maka itu, tinggalkanlah ucapan ‘Hallo’ dan ganti dengan ucapan ‘Assalamu ‘alaikum’ dikala menelepon atau menjawab telepon.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Kamu tidak akan masuk ke Surga hingga kamu beriman, kamu tidak akan
beriman secara sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah kamu kutunjukkan
sesuatu, apabila kamu lakukan akan saling mencintai? Biasakan mengucapkan salam
di antara kamu (apabila bertemu).” [HR. Muslim 1/74, begitu juga imam yang
lain].
Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Ada tiga perkara, barangsiapa yang bisa mengerjakannya,
maka sungguh telah mengumpulkan keimanan: 1. Berlaku adil terhadap diri sendiri;
2. Menyebarkan salam ke seluruh penduduk dunia; 3. Berinfak dalam keadaan
fakir.” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 1/82, dari hadits ‘Amar z secara
mauquf muallaq].
Dari Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya
kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, manakah ajaran Islam yang lebih baik?”
Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah engkau memberi makanan,
mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” [HR. Al-Bukhari
dengan Fathul Bari 1/55, Muslim 1/65].
Berikut ini adalah salah satu contoh adab seorang
ulama tatkala menerima telepon (dinukil dari http://abusalma.net/?p=1178#more-1178)
:
Ini adalah transkrip percakapan
seorang penuntut ilmu dengan Asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Abdullâh bin Shâlih
al-‘Ubailân hafizhahullâhu via telepon. Dalam percakapan ini, Syaikh
mendukung pendapat Syaikh ‘Ali al-Halabî dan masyaikh Syam akan kesalafiyahan
Syaikh Muhammad Hassân.
Syaikh : Na’am
(iya)*
[Catatan : Ini adalah adab seorang ulama
yang patut ditiru, yaitu beliau berupaya menghindarkan diri dari tasyabbuh
(menyerupai) kaum kafir dengan sering mengawali percakapan di telepon dengan
kata “hallo”, dan lebih memilih untuk mengucapkan “iya”, pent.]
Penanya : Assalâmu
‘alaikum warohmatullâhi wabarokâtuh
Syaikh : Wa’alaikum
as-Salâm warohmatullâhu wabarokâtuh
Penanya : Hayyakumullâhu
ya Syaikh
Syaikh : Allôhu
yuhyîka
Penanya : Apakah
diizinkan Saya merekam pertanyaan ini?*
[Catatan : Ini adalah adab penuntut ilmu, meminta
izin terlebih dahulu apabila akan merekam sebuah pembicaraan, pent.]
Syaikh : Pertanyaannya
apa dulu sebelum Anda merekamnya?*
[Catatan : Ini menunjukkan pemahaman yang dalam
dari diri Syaikh untuk melihat jenis dan bentuk pertanyaannya sebelum beliau
mengizinkannya untuk direkam.]
Penanya : Pertanyaannya
wahai Syaikh, sesungguhnya sebagian saudara kita –wahai Syaikh-, mereka
terpengaruh dengan Syaikh Muhammad Hassân. Saya ingin menasehati mereka, karena
itu Saya ingin minta nasehat Anda untuk mereka wahai Syaikh.
Syaikh : Ada apa emangnya
dengan Syaikh Muhammad Hassân? Kenapa dengan Syaikh Muhammad Hassân?
Penanya : Demi Alloh,
para ulama membicarakan tentang Syaikh Muhammad Hassân.*
[Catatan : Di sini sang penanya tampak agak kaget
sebab Syaikh memberikan jawaban yang berbeda dengan yang diinginkannya, Pent.]
Syaikh : Siapa ulama yang
membicarakannya? Apakah Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd?!
[Catatan : Di sini Syaikh hendak menunjukkan bahwa
Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad seharusnya yang menjadi rujukan di dalam masalah
jarh wa ta’dîl karena beliau adalah ulama yang paling obyektif, pent.]
Penanya : Syaikh ‘Ubaid
al-Jâbirî telah membicarakannya, dan beliau mengatakan bahwa dia (Syaikh
Muhammad Hassân) adalah Quthbî (nisbat kepada Sayyid Quthb-pent) wahai
Syaikh.
Syaikh : ‘Ubaid al-Jâbirî
ini mengambil posisi ulama tentang hal ini ataukah perkara ini merupakan haknya
dan selainnya?
Penanya : Sebagian ikhwah
bertanya kepada beliau dan beliau menjawab bahwa dia adalah Quthbî wahai
Syaikh.
Syaikh : ‘Ala kulli
hâl (biar bagaimanapun) ini merupakan ijtihâd dari Syaikh
(al-Jâbirî), yang bisa benar dan bisa keliru. Sesungguhnya, saudara
kami al-Akh Muhammad Hassân adalah termasuk seorang yang berilmu (ulama) dan
pemilik keutamaan. Kami tidak mendakwakan bahwa beliau itu ma’shûm
dan tidak pernah bersalah. Namun beliau adalah termasuk ahlus sunnah dan orang
yang membela aqidah dan sunnah serta beliau termasuk jajaran da’i yang terdepan
yang menampakkan pembelaan terhadap aqidah dan sunnah di dunia. Beliau banyak
memberikan manfaat di Mesir, Syam dan selainnya.
Penanya : Maksudnya wahai
Syaikh, Muhammad Hassân itu termasuk ahlus sunnah?
Syaikh : Iya, iya,
termasuk ahlus sunnah.
Penanya : Bukannya dia
memiliki kesalahan-kesalahan wahai Syaikh?
Syaikh : Tidak ada orang
yang tidak memiliki kesalahan wahai saudaraku. Akan tetapi kesalahan-kesalahan
beliau ini tidak mengeluarkannya dari ahlus sunnah.
Penanya : Mereka juga
mengatakan bahwa dia juga seorang ikhwânî wahai Syaikh.
Syaikh : Tidak, tidak,
beliau bukan seorang ikhwânî, bukan… beliau
adalah seorang salafî, dan seorang salafî itu senantiasa tidak
akan menyebutkan guru-gurunya kecuali Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimîn –yang
beliau sendiri belajar padanya-, menyebutkan Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz dan
menyebukan al-Albânî. Tidak akan selamanya dia berargumen dengan salah seorang
pun selain mereka.
Penanya : Jazzâkallâhu
khoyron wahai Syaikh, bârokallôhu fîka yâ Syaikh, hayyakallohu yâ
Syaikh…
=============
Maka dari itu, ucapkanlah salam sebelum orang lain
mengucapkan salam kepadamu dengan salam penghuni kubur….
Oleh Abu Fahd Negara Tauhid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar