“Tenang saja… Tinggal di Bojong
Gede (Bogor) bakalan aman gan. Gak bakalan kena Tsunami, gak bakalan
kebanjiran, gak ada gempa dan gak kena gunung meletusss…”
Ini adalah perkataan dan
pemahaman yang keliru, menyelisihi aqidah dalam Islam. Sikap ini merupakan tipu
daya syetan dan akan mengurangi kesempurnaan tauhid yang ada pada diri seorang
hamba. Ana pernah mendengar perkataan ini secara langsung dari ucapan seorang
teman ana disini. Karena termasuk perkara aqidah yang wajib dimiliki oleh
setiap orang beriman adalah tidak boleh merasa aman dari siksa atau adzab
Allah. Tidak hanya di Bojong Gede (tempat ana tinggal) saja, melainkan dimana
pun kita tinggal dan berada, hendaknya seorang yang beriman tidak merasa aman
akan musibah atau adzab yang bisa menimpa kita kelak.
Jangan kita mengira bahwa pepohonan dan taman-taman yang hijau itu akan abadi, jangan kita mengira bahwa rumah yang kita tempati dengan aman dan nyaman bisa menyelamatkan kita dari adzab Allah. Jika Allah menghendaki maka keadaan bisa saja berubah dalam sekejap. Dia bisa mendatangkan siksa-Nya sewaktu-waktu dan kapan saja, waktu malam ketika kita lelap tertidur, ataupun dipagi yang cerah ketika kita sedang bermain dan bercanda ria dengan anak dan keluarga kita.
Jangan kita mengira bahwa pepohonan dan taman-taman yang hijau itu akan abadi, jangan kita mengira bahwa rumah yang kita tempati dengan aman dan nyaman bisa menyelamatkan kita dari adzab Allah. Jika Allah menghendaki maka keadaan bisa saja berubah dalam sekejap. Dia bisa mendatangkan siksa-Nya sewaktu-waktu dan kapan saja, waktu malam ketika kita lelap tertidur, ataupun dipagi yang cerah ketika kita sedang bermain dan bercanda ria dengan anak dan keluarga kita.
Firman Allah Ta’ala (artinya):
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al-’Araaf [7]: 97).
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al-’Araaf [7]: 97).
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik
ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al-’Araaf [7]: 98).
“Maka apakah mereka merasa aman
dari adzab Allah (yang tiada terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari adzab
Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99).
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas
Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika
ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab: “Yaitu: syirik kepada Allah,
putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (HR Al-Bazzar
dan Ibnu Abi Hatim, isnadnya hasan).
Abdurrazzaq meriwayatkan dari
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Dosa-dosa besar yang paling besar
ialah syirik kepada Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari
rahmat Allah dan berputus asa dari pertolongan Allah.”
Referensi :
– “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bab Larangan Merasa Aman Dari Siksa Allah Dan Berputus Asa Dari Rahmatnya.
– “Ilal Aminin min Makrillah”, Abdul Hamid bin Abdur Rahman As-Suhaibany.(Dept. Ilmiah) http://www.alsofwah.or.id
– “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bab Larangan Merasa Aman Dari Siksa Allah Dan Berputus Asa Dari Rahmatnya.
– “Ilal Aminin min Makrillah”, Abdul Hamid bin Abdur Rahman As-Suhaibany.(Dept. Ilmiah) http://www.alsofwah.or.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar