Selasa, 10 Januari 2017

UAS filsafat pendidikan



Cara Asyik Belajar Filsafat

Pengertian Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.Itulah definisi filsafat secara umum.Ada pula filsafat pendidikan,dimana definisi dari filsafat pendidikan itu sendiri adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik,potensi cipta,rasa,maupun juga karsanya.Akar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar Pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan Universal.Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis. Guna untuk mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. 
Dalam kesempatan kali ini,saya akan membahas hal-hal yang di kira menarik dari persoalan filsafat yang di kemas secara berkaitan satu sama lain.
Mengenal Immanuel Kant dan Pokok Pemikirannya
Di dalam dunia ilmu filsafat terdapat satu tokoh yang sangat terkenal yaitu Immanuel Kant, Filsuf barat dengan gelar raksasa pemikir Eropa, mengatakan filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan. Dilihat dari riwayat hidupnya, Immanuel Kant adalah seseorang yang sederhana. Selama hidupnya Kant menetap di Prusia dan mengalami masa peperangan tujuh tahun sewaktu Rusia menaklukkan Prusia Timur. Ia juga hidup dalam masa revolusi Perancis dan masa kejayaan Napoleon.
Selama hidupnya jarang sekali ia bepergian lebih dari 70 km dari tempat tinggalnya. Immanuel Kant dilahirkan di Koenigsberg, suatu kota di Prusia Timur, Jerman pada tanggal 22 April 1724, dari keluarga pembuat dan penjual alat-alat dari kulit untuk keperluan menunggang kuda.  Semula namanya ditulis dengan Cant, tetapi karena adanya perubahan ejaan yang menentukan bahwa huruf C juga dibaca seperti S, maka untuk tidak membuat meragukan orang yang mengenalnya, nama itu ditulis seperti yang dikenal orang sekarang. Perubahan itu telah terjadi pada zaman neneknya. Perhatian bagi hal-hal kecil semacam itu antara lain yang mempengaruhi sikap hidup Kant yang serba teliti lebih-lebih dalam hal pembagian waktu, sampai ia terkenal sebagai seorang profesor yang bekerja menurut waktu yang telah ditentukannya.
Kehidupannya sebagai filsuf di bagi dalam dua periode: zaman pra-kritis dan zaman kritis. Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian rasionalis yangdilancarkan oleh  Wolft. Tetapi karena terpengaruh oleh Hume berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume itulah yang membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Pada zaman kritisnya, kant merubah wajah filsafatnya secara radikal. Ia menanamkan filsafatnya sekaligus mempertanggungkannya dengan dogmatisme.
Tiga Pokok Pemikiran Immanuel Kant
Immanuel Kant seorang filsuf termasyhur dari Jerman memiliki tiga pokok pemikiran yang harus diketahui terlebih dahulu, dikarenakan pemikirannya begitu original dan terlihat berbeda dari pemikiran para filsuf sebelumnya terutama berangkat dari filsuf Inggris bernama David Hume. Berikut ini pokok pemikirnnya:
  1. Panca indera, akal budi dan rasio. Kita sudah tahu tentang arti empirisme yang mementingkan pengalaman inderawi dalam memperoleh pengetahuan dan rasionalisme yang mengedepankan penggunaan rasio dalam memperoleh pengetahuan, tetapi rasio yang kita ketahui adalah sama dengan akal dan logis, namun Kant memberi definisi berbeda. Pada Kant istilah rasio memiliki arti yang baru, bukan lagi sebagai langsung kepada pemikiran, tetapi sebagai sesuatu yang ada “di belakang” akal budidan pengalaman inderawi. Dari sini dapat dipilah bahwa ada tiga unsur yaitu akal budi (Verstand), rasio (Vernunft) dan pengalaman inderawi.
  2. Dalam filsafatnya Kant mencoba untuk mensinergikan antara rasionalisme dan empirisme. Ia bertujuan untuk membuktikan bahwa sumber pengetahuan itu diperoleh tidak hanya dari satu unsur saja melainkan dari dua unsur yaitu pengalaman inderawi dan akal budi. Pengetahuan a-priori merupakan jenis pengetahuan yang datang lebih dulu sebelum dialami, seperti misalnya pengetahuan akan bahaya, sedankan a-posteriori sebaliknya yaitu dialami dulu baru mengerti misalnya dalam menyelesaikan Rubix Cube. Kalau salah satunya saja yang dipakai misalnya hanya empirisme saja atau rasionalisme saja maka pengetahuan yang diperoleh tidaklah sempurna bahkan bisa berlawanan. Filsafat Kant menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan gabungan (sintesis) antara keduanya.
  3. Dari sini timbullah bahwa Kant adalah seorang Kopernikan dalam bidang filsafat. Sebelum Kant, filsafat hampir selalu memandang bahwa orang (subjek) yang mengamati objek, tertuju pada objek, penelitian objek dan sebagainya. Kant memberikan arah yang sama sekali baru, merupakan kebalikan dari filsafat sebelumnya yaitu bahwa objeklah yang harus mengarahkan diri kepada subjek. Kant dapat dikatakan sebagai seorang revolusioner karena dalam ranah Filsafat Immanuel Kant pengetahuan ia tidak memulai pengetahuan dari objek yang ada tetapi dari yang lebih dekat terlebih dahulu yaitu si pengamat objek (subjek). Dengan ini tambah lagi salah satu fungsi filsafat yaitu membongkar pemikiran yang sudah dianggap mapan dan merekonstruksikannya kembali menjadi satu yang fresh, logis, dan berpengaruh.
                  Pemikiran Kritisisme Immanuel Kant Filsafat yang dikenal dengan kritisisme adalah filsafat yang diintrodusir oleh Immanuel kant. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Perkembangan ilmu Immanuel Kant mencoba untuk menjebatani pandangan Rasionalisme dan Empirisisme, teori dalam aliran filsafat Kritisisme adalah sebuah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dari filsafat Rasionalisme dan disini kekuatan kritis filsafat sangatlah penting, karena ia bisa menghindari kemungkinan ilmu pengetahuan menjadi sebuah dogma. Filsafat ini memulai pelajarannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda dengan corak filsafat modern sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika dan estetika. Gagasan ini muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pemikiran Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Apakah yang dapat kita ketahui?
2.    Apakah yang boleh kita lakukan?
3.    Sampai di manakah pengharapan kita?
4.    Apakah manusia itu?
Ciri-ciri kritisisme dapat disimpulkan dalam tiga hal:
  1. Menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
  2. Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
  3. Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur anaximanesa priori  yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori  yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
                  Selain beberapa hal terebut di atas Immanuel Kant terkenal dengan 12 Kategori Kant. Apa saja yang termasuk, berikut ini adalah 12 kategori Kant:
1.      Unitas
  1. Pluralitas
  2. Tolalitas
  3. Realitas
  4. Negasi
  5. Pembatasan
  6. Inheren dan Penghidupan (Substansi dan Aksiden)
  7. Kausalitas dan Ketergantungan ( Sebab dan Akibat)
  8. Pertukaran antara komunitas antara Agen dan Pasien
  9. Kemungkinan – kemustahilan
  10. Eksistensi dan Noneksistensi
  11. Pendelegasian kepentingan
Permasalahan Filsafat
Secara Umum terbagi menjadi tiga;
  1. Ontologi, yaitu mengkaji hakikat segala sesuatu, terbagi 2:
1)      Kualitas;
a.       Monisme, asal lam terdiri dari satu  unsur (mono=satu). Thales dari air, Anaximandros dari apairon, Anaximenes dari udara, Democritos dari tanah.
b.      Dualisme, yang mengatakan alam semesta terdiri dari dua unsur yaitu materi dan roh. Tokohnya Anaxagoras dan Aristolteles.
c.       Pluralisme, alam semesta terdiri dari empat unsur; air, angin, api, tanah. Tokohnya Empedokles, Leukippos.

2)      Kualitas
Pandangan ini membicarakan bagaimana alam berproses, dalam kaitannya muncul 4 teori:
-          Mekanisme, yang mengatakan bahwa segala sesuatu berproses secara mekanik.
-          Teleologi, mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam raya berproses menuju suatu tujuan, yaitu Tuhan.
-          Determinisme, kejadian di alam iniberproses melalui suatu ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya, baik oleh hukum alam maupun oleh Tuhan
-          Indeterminisme, segala kejadian di alam ini berlangsung secara bebas, tanpa kendali tertentu dari Tuhan atau kekuatannya.
2.      Epistimologi ,yaitu membicarakan pembahasan mengenai metode yang di gunakan untuk mendapatkn pengetahuan, ada 2 hal ;
a.       Hakikat pengetahuan, muncul 2 pandangan;
 - realisme, yaitu pengetahuan manusia riil adanya dalam kehidupan.
 - idealisme, yaitu hakikat ilmu pengetahuan tidak terdapat dalam dunia riil, melainkan konsep ideal atau dunia ide-ide.
b.   Sumber Pengetahuan, muncul 3 pandangan;
- rasionalisme, mengatakan bahwa sumber pengetahuan muncul dari rasio (akal) manusia.
- Empirisme, sumber pengetahuan adalah indera manusia.
- Kritisme, pengetahuan manusia bersumber dari luar diri manusia, yaitu Tuhan.
3.   Aksiologi, terbagi menjadi 6 pandangan ;
  1. naturalisme, yang menyatakan ukuran baik buruk ialah sesuai tidaknya perbuatan tersebut sesuai dengan fitrah (natura) manusia.
  2. Hedonisme, yang menyatakan bahwa ukuran baik buruk ialah sejauh mana suatu perbuatan mendatangkan kenikmatan (hedone) bagi manusia.
  3. Vitalisme, ukuran baik buruk ditentukan oleh sejauh mana suatu perbuatan tersebut dapat mendorong manusia untuk hidup lebih maju.
  4. Ultitarianisme, Ukuran baik buruk ditentukan oleh ada tidaknya suatu perbuatan mendatangkan  manfaat bagi manusia.
  5. Idealisme, ukuran baik buruk ditentukan oleh sesuai tidaknya sesuatu perbuatan dengan konsep ideal (rancang bangun) pikiran manusia.
  6. Teologis, baik buruknya suatu perbuatan ditentukan oleh sesuai tidaknya suatu perbuatan  dengan ketentuan agama (teos=Tuhan, agama)
Berdasarkan Mata Kuliah yang di kontrak di semester tiga ini yaitu Filsafat Pendidikan terdapat kaitan nya dengan ilmu.Adapun hubungan dari keduanya adalah sebagai berikut :
Seperti yang telah di jelaskan di atas bahwa filsafat pendidikan merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik,potensi cipta,rasa,maupun juga karsanya. Sedangkan ilmu adalah sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu pengalaman tertentu yang disusun melalui sistem tertentu, sehingga menjadi suatu kesatuan.
Ilmu mencari kebenaran dengan cara penyelidikan (riset) sesuai dengan eksistensinya yang berhubungan dengan alam empiris. Dalam penyelidikan ilmu selalu mencari  hukum sebab akibat. Sebagai hukum sebab akibat maka kebenaranya pasti ada.
Dengan kata lain, filsafat pendidikan sangat erat kaitan nya dengan pengetahuan bagaimana cara mengembangakan atau menjalankan potensi-potensi manusiawi yang berada di ruang lingkup pendidikan seperti peserta didik,guru,lembaga sekolah dan lain-lain. Sedang pengetahuan itu sendiri merupakan sebuah hasil yang di dapatkan dari ilmu dan berbagai macam pengetahuan tersebut di peroleh berdasarkan pengalaman ,pengajaran dan lain-lain.
Selain itu, filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli, karena kebenaran mutlak di tangan Tuhan atau dengan singkat dikatakan pengetahuan tentang segala yang ada. Jadi ketika kita berfilsafat dalam hal pendidikan ingatlah pada apa yang mendasari ilmu filsafat tentang mencari segala sesuatu tentang kebenaran nya. Mampu berpikir sistematis dan kritis untuk memperoleh kebenaran.
Manusia akan mampu berfilsafat dan menjadi seorang filsuf apabila dia bisa menggunakan aturan main dalam berfilsafat yaitu : Berpikir logis, sistematis, radikal, dan universal.
Oleh karena itu munculah pengharapan pada manusia tentang apa yang di harapkan dari suatu pendidikan yang menghasilkan sebuah pengetahuan dari ilmu yang di dapat.
Manusia adalah makhluk hidup yang paling sempurna di bandingkan dengan makhluk yan lain nya. Hal ini di karenakan manusia mempunyai akal dan pikiran. Selain itu, manusia memiliki kelebihan dan potensi yang baik dalam menjalankan hidup nya. Dengan akalnya manusia mampu. berpikir, dengan pikirannya memperoleh pengetahuan, dengan pengetahuannya manusia memiliki ilmu, dengan ilmunya manusia mampu berpikir rasional, logis dan sistematis.
Terdapat beberapa kriteria manusia, yaitu :
  • Memiliki rasa ingin tahu, maka diaktuakisasikan dalam bentuk bertanya.
  • Melalui rasio maka manusia memberikan jawaban terhadap aneka pertanyaan
  • Manusia bertanya, manusia pula menjawab
  • Manusialah yang benar-benar bereksistensi karena memiliki kesadaran dan otonomi dirinya.
Dengan kata lain :
§  Malalui akalnya manusia mampu menyamai makhluk lain.
§  Burung terbang tinggi, manusia terbang dengan pesawat ciptaannya.
§  Angsa bisa berenang ke ujung pulau, manusia berenang dengan kapal Feri ciptaannya.
§  Ikan mampu menembus dasar lautan, manusia menembus lautan dengan kapal selam ciptaannya.

Lalu, apa saja yang di jadikan pengharapan bagi manusia ?
Pada dasarnya manusia memiliki tujuan hidup masing-masing, contohnya
Mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Tentunya, untuk mendapatkan hal tersebut manusia harus melewati proses dengan berbagai cara kehidupan. Tiga poin penting dalam kehidupan manusia yaitu : umur, rizky dan jodoh merupakan hal mutlak yang telah di tentukan oleh Tuhan pada masing-masing setiap manusia sebelum manusia itu sendiri terlahir ke dunia. Terlepas dari itu, manusia masih bisa merubah “takdir” yang telah di tentukan seperti berusaha keras dalam mencari rizky demi pencapaian maksimal, usaha dalam mencari pasangan hidup yang lebih baik dan menjaga pola hidup demi terbetuknya pola hidup sehat agar manusia meiliki umur yang panjang
Persoalan yang mendasar pada manusia adalah keinginan dan kebutuhan. Keinginan manusia yang tiada batas seolah-olah tidak memiliki puncak akhir dari segala apa yang di inginkan. Pendapat yang selalu melekat pada manusia bahwa “manusia tidak ada puas nya” memang benar adanya. Karena setiap kali manusia mencapai suatu hal, dia akan terus berambisi untuk mendapatkan keinginan yang lain. Begitu juga dengan kebutuhan, manusia memiliki kebutuhan yang banyak untuk menunjang kehidupan mereka
Oleh karena itu, manusia berharap dari keinginan dan kebutuhan tersebut dapat terpenuhi sehingga menciptakan kehidupan yang sejahtera


Sumber :