Rabu, 21 Desember 2016

Pendidikan Tinggi bukan Jaminan Hidup Lebih Baik



Menimbah ilmu pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting kita lakukan jika ingin hidup lebih baik. Mengenyam pendidikan mulai dari Tk sampai perguruan tinggi merupakan impian setiap orang. Pendidikan tinggi diharapkan mampu memberikan umpan balik positif terhadap kehidupan setiap orang. Tapi tahukah anda? pendidikan tinggi bukanlah satu-satunya faktor yang membuat hidup jadi lebih baik.
Tingkat pendidikan yang tinggi terkadang membuat sebagian orang melihat diri jauh lebih baik, jauh lebih hebat ketimbang orang yang memiliki pendidikan lebih rendah. Secara logika dasar manusia hal itu memang benar kenyataannya, tapi hal itu sudah benar? apakah hl itu sudah sesuai dengan hukum alam? apakah itu sudah benar di mata sang khalik?
Jadi jangan heran terkadang kita sulit menerima kenyataan atau pendapat dari orang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dari diri kita. Tapi hal itu bukan berarti orang tersebut salah, sering terdengar ungkapan seperti ini, Saya salah bukan berarti anda benar.
Apakah pendidikan tinggi menjamin hidup kita jauh lebih baik? pendidikan tinggi bukanlah jaminan hidup jadi lebih baik. Sama halnya dengan kekayaan, orang kaya belum tentu hidupnya lebih bahagia ketimbang orang miskin dan begitupun sebaliknya. Lantas apa yang menjadi tolok ukur untuk menilai hidup orang lebih baik ata tidak? pertanyaan ini sama halnya ketika kita bertanya, siapa yang puasanya lebih baik? hal yang sulit diukur, hal yang ambigu dan semua orang punya tanggapan dan pendapat berbeda.
Hidup lebih baik itu bagi admin adalah hidup dengan bijaksana, menerima keadaan yang terjadi, bersyukur dan berusaha untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan karena ingin terlihat hebat di mata orang lain tapi terus berusaha sampai titik darah penghabisan walaupun terkadang orang lain menganggap kita bodoh, aneh dan bahkan gila. Tapi hal itu ketika kita lakukan membuat hidup kita jauh lebih nikmat, jauh lebih berarti, jauh lebih bermakna dan hidup kita berwarna. Hidup hanya satu kali, gapai impian dan harapan kita karena kita adalah manusia yang diciptakan untuk berjuang di muka bumi ini untuk persiapan di hari esok. Hari di mana semuanya kekal abadi, hari di mana hasil perjuangan hari ini baru terlihat. Hari di mana pendidikan tinggi tidak berharga, hari di mana hanya orang-orang yang ingin jadi lebih baik menangis dan bersujud tanda kesyukuran kepada Sang Khalik. [Ai]

Unsur-Unsur Pendidikan
kali ini akan membahas unsur-unsur pendidikan, di sini akan dikupas secara tuntas tentang unsur-unsur yang terdapat dalam pendidikan. Berikut unsur -unsur pendidikan secara lengkap.
Dalam proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :
1)   Subjek yang dibimbing (peserta didik).
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya
2)  Orang yang membimbing (pendidik).
Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.
3)   Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
4)  Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak.
Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.
5)  Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.
6)  Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.
7)  Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).
Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.[Ai]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar