Jangan heran kalo beberapa waktu
belakangan ini makin marak para muslimah berbusana muslim. Sebab, sepertinya
sudah jadi tren. Dengan beragam model pakaian, bermacam gaya berkerudung,
beraneka, bervariasi, para muslimah menunjukkan jati diri. Keren juga deh.
Fenomena itu pun ditangkap
sebagai kesempatan yang nggak boleh disia-siakan oleh para pebisnis. Mulai dari
pebisnis grosiran ala Tanah Abang sampai yang tingkat elit lewat bermacam
butik. Bahkan pada 12 Agustus-3 September yang lalu diselenggarakan Indonesian
Islamic Fashion Fair yang dijadikan momen untuk menjadikan Indonesia sebagai
kiblat busana muslim dunia. Busana muslim rancangan desainer terkemuka dihadirkan
di sini. Menaikkan gengsi busana muslim. Nggak dinilai kumuh lagi. Nggak
dianggap jadul lagi.
Berbagai model kerudung
dijajakan. Bermacam model pakaian dipajang. Tawaran ragam harga diajukan. Mau
yang murah? Ada. Yang mahal? Tersedia. Banyak pilihan yang menggiurkan. Namun
kemudian muncul tanya. Apakah fenomena berkerudung dan berjilbab itu sejatinya
gambaran kebangkitan umat Islam? Gambaran kesadaran beragama, khususnya di
kalangan muslimah, yang kian kental? Ataukah cuma arus tren yang sebentar lalu
akan tergerus oleh arus tren berikutnya, yang lainnya? Dan lagi-lagi umat
Islam, muslimah khususnya hanya dijadikan obyek marketing, tambang uang bagi
sebagian pihak.
Jangan kapitalisasi jilbab kami, please!
Fakta bahwa semakin sering dan
mudah dijumpai muslimah berkerudung dan berjilbab nggak bisa dibantah. Fakta
kalau jilbab, kerudung, dan jenis busana muslimah lainnya berserta
pernak-pernik aksesorisnya saat ini jadi komoditi dagang yang potensial
menghasilkan keuntungan besar, itupun nggak bisa disangkal. Sehingga nggak
heran makin banyak kreator alias desainer busana muslimah berlomba berkreasi
menciptakan desain jilbab dan kerudung yang bisa menarik hati calon pembeli dan
yang pasti sih menarik uang dari kantung mereka. Hehehe…
Sebenarnya nggak ada yang salah
dengan mencipta desain busana sehingga para muslim dan muslimah bisa tampil
lebih cling. Yang bikin timbul problema jika para kreator cuma mikir fulusnya
aja. Berinovasi, berikhtiar mencari ide rancangan berikutnya semata-mata untuk
mempertahankan jumlah pelanggan atau bahkan untuk bisa menambah luas pasar.
Kalau cuma itu yang ada di pikiran para desainer dan pengusaha busana, lantas
apa bedanya dengan mereka berjualan jenis pakaian lainnya? Toh, sama-sama dalam
rangka bisnis, melipatkan keuntungan dengan mempertahankan keloyalan pelanggan
lama dan meraih jaringan baru calon pelanggan berikutnya. Jilbab diserbu
pelanggan, pengusaha untung besar. Kerudung habis terjual, pengusaha senang.
Lantas di mana sisi “jilbab
adalah baju takwa” ditempatkan? Di mana peran dan tanggung jawab para desainer
dan pengusaha untuk ikut memahamkan umat tentang jilbab? Mensyiarkan jilbab
yang sebenar-benarnya jilbab. Jilbab yang sejatinya ada karena Allah yang
memerintahkan para muslimah memakainya. Bukan sekadar pakaian yang menutupi
badan. Tapi itu akan dilakukan karena sandaran keimanan. Tidak lain dan tidak
bukan. Sehingga desain yang dihasilkan pun semestinya mengikuti kriteria jilbab
yang Allah perintahkan, bukan semata-mata bersandar pada daya kreativitas si
manusianya aja. Bagus en indahnya bukan hanya berdasarkan pandangan manusia
aja, gitu lho. Sebab, dakwah bukan hanya tugas dan kewajiban ulama. Dakwah
adalah tugas dan kewajiban tiap individu muslim, termasuk para desainer dan
pengusaha muslim.
Allah Swt. berfirman (yang
artinya): “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku
termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?” (QS Fussilat [41]: 33)
Untuk kita sebagai pembeli,
sebenarnya sah-sah aja memilih dan akhirnya membeli busana muslimah yang bagus
dan indah. Apalagi kalau itu dalam rangka ibadah, pastinya lebih indah. Tapi,
kalau sampai aktivitas membeli tadi mendekat ke perilaku konsumtif bisa berabe.
Kalau beli jilbab cuma karena ikut tren, urusan ibadah bisa malah jadi
terbengkalai. Pahala nggak jadi tergapai. Yang ada perilaku konsumtif
menjadikan kita sebagai pemboros. Lagian kalo nafsu konsumtif udah berurat
berakar, bakalan berabe. Sebab, belanja jadi maniak atau gila belanja. Tul
nggak sih?
Itu sebabnya, pemahaman yang
benar soal jilbab jadi urgen banget didapatkan. Jangan sampai gara-gara beli
jilbab malah bikin kita terjerumus nggak berperilaku takwa karena sekadar
ngejar tren.
Kami beriman, maka kami berjilbab!
Syahadah bagi tiap muslim adalah
sebuah janji terbesar, dari hamba kepada Tuhannya. Janji terdalam dan teragung
untuk menaati tiap perintah dan meninggalkan tiap laranganNya. Janji setia
untuk mengikuti tiap sabda RasulNya, Muhammad saw. Janji telah diikrarkan lalu
ketaatan dilakukan. Lalu serupalah lisan dengan perbuatan. Itulah iman.
Menutup aurat dan berjilbab
(pakaian longgar, panjang, bukan potongan, semacam jubah, mirip gamis) bagi
tiap muslimah adalah kewajiban. Tidak ada sanggahan yang bisa diberikan untuk
menyangkal kewajiban ini.
Oya, biar lebih jelas, jilbab
bermakna milhâfah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak
tipis), kain (kisâ’) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsawb) yang
dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus al-Muhîth dinyatakan
demikian: Jilbab itu laksana sirdâb (terowongan) atau sinmâr (lorong), yakni
baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa
saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Moga
aja setelah ini nggak kebalik-balik lagi ketika membedakan antara jilbab dan
kerudung. Jadi, bagi kamu yang baru sekadar pake kerudung, buruan lengkapi
dengan jilbab ya. Ok?
Salmah meriwayatkan bahwa Asma
binti Abu bakar ra. pernah menemui Nabi saw. seraya menggunakan pakaian tipis.
Melihat itu, beliau saw. memalingkan wajah kemudian memberi nasihat: “Wahai
Asma’, sesungguhnya kalau sudah aqil baligh, wanita tidak patut memperlihatkan
tubuhnya yang manapun kecuali ini dan ini” kata beliau sambil menunjuk muka dan
kedua tangannya.
Allah Swt. berfirman (yang
artinya): “Dan katakalah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga
pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang biasa tampak pada dirinya. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (QS an-Nuur [24]: 31)
Dalam ayat yang lain Allah Swt.
berfirman: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu,
dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga
mereka tidak diganggu.” (QS al-Ahzab [33]: 59)
Berjilbab seharusnya dilakukan
karena kesadaran bahwa itu perintah Allah. Tapi, nggak jarang juga yang cuma
modal ikut-ikutan. Kayaknya pake busana muslim asyik, deh. Kayaknya bikin makin
cantik dan anggun, deh. Wah, kalau kayak gitu bisa bahaya, Non! Modalnya cuma
ikut-ikutan, tahannya bisa jadi cuma sebentar deh. Kalau nggak segera lurusin
niat dan mengkaji lebih dalam soal jilbab, bisa jadi pakai jilbab
bongkar-pasang, atau malah lepas beneran. Na’udzubillahi min dzalik.
Berjilbab sebagai salah satu
buah keimanan seharusnya nggak hanya sampai permukaan. Karena memang jilbab
bukan sekadar pakaian, dan berjilbab bukan sekadar berpakaian. Berjilbab
semestinya jadi pemicu bagi kita untuk mau menyegerakan diri menjadi hamba
Allah yang lebih baik. Jadi nggak ada ceritanya udah berjilbab eh tapi masih
pacaran. Atau udah berjilbab tapi masih seneng datang ke konser yang
campur-baur antara laki-laki dan perempuan plus jingkrak-jingkrakan. Weleh.
Nggak banget tuh!
Terus ada yang kasih pendapat,
kalo gitu mendingan nggak berjilbab dunks yang penting kan jadi makhluk lemah
lembut, manis, baik hati, dan nggak sombong! Heuheuheu… Ya nggak gitu juga,
dong. Nggak berjilbab en nggak pacaran, tetep dosa. Dosa karena nggak pake
jilbab. Berjilbab tapi masih suka pacaran juga tetep dosa. Dosa karena
pacarannya. Jadi gimana dong? Kembali lagi ke soal jilbab sebagai buah keimanan
tadi. Berjilbab seharusnya menjadi pintu gerbang bagi kita untuk semakin
terdepan dalam praktek keislaman. Berjilbab bukan sebagai penutup atau garis
finish dari segala performa kesolehan yang sudah kita tunjukkan. Kita baii…k
dulu dalam semua hal barulah ditutup atau disempurnakan dengan jilbab. Nggak
kayak gitu, Sista!
Sekali lagi berjilbab adalah
pintu gerbang, merupakan garis start untuk melakukan amal sholih berikutnya,
dan seterusnya. Sehingga setekah berjilbab seharusnya seorang cewek terus
terpacu untuk menggali ilmu Islam lebih dalam. Jadi lebih konsisten dalam
mempelajari khasanah pemikiran Islam. Proses belajar tiada henti terus
dijalani. Ending-nya hanya ketika kematian datang.
Nah, sekarang tinggal
instropeksi diri. Udah berjilbab tapi masih males datang ke pengajian? Udah
berjilbab tapi masih bikin susah ortu? Udah berjilbab tapi masih seneng
hang-out bareng temen-temen cowok? Udah berjilbab tapi masih itung-itungan
untuk beramal? Hmm … jawaban iya en nggaknya masing-masing aja ya dan segera
bikin rencana perubahan sesuai dengan jawaban masing-masing. Yang pasti semua
rencana yang udah dibuat nanti harus direalisasikan sebagai wujud pembuktian
atas satu kalimat yang telah diucapbersama dengan yakin dan mantap: KAMI
BERIMAN, MAKA KAMI BERJILBAB! Allahu Akbar! Ayo, mulai buktikan ya! [nafiisah
fb: http://sastralangit.wordpress.com%5D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar